Punya rumah yang terbuat dari material kayu itu asyik ya pastinya, kesannya itu hangat dan menyatu dengan sekitar. Cuma sayangnya, pertumbuhan pohon yang kayunya Kita pakai buat rumah itu tidak seimbang dengan laju populasi dan permintaan rumah serta bangunan lainnya, otomatis persediaan kayunya makin menipis.

Tapi tenang saja wahai netizen +62, Kita ada alternatif lain pengganti kayu yaitu bambu. Bambu memberikan berbagai macam keuntungan diantaranya seperti bambu memiliki biomassa yang besar, dapat memperbaiki kandungan air tanah serta dapat menghindarkan dan menahan erosi.

Dibandingkan dengan kayu pun bambu memiliki banyak keunggulan. Selain dapat dipergunakan dalam umur tumbuh 3-5 tahun, laju pertumbuhan tanaman ini rata-rata 3-10 cm per harinya, sebagai material pun bambu ternyata juga lebih lentur ketimbang kayu.

Tentu bambu jadi pilihan yang baik buat alternatif kayu, ditambah lagi hunian yang terbuat dari material bambu juga bisa memberikan kesan yang hangat dan menyatu dengan sekitar.

Saat ini, guna fleksibilitas penggunaan material dikembangkan lah bambu laminasi yang penampakannya mirip seperti kayu. Mari kenal lebih jauh lagi soal bambu laminasi, cekidot slurr.

Bambu laminasi

Saat ini guna mengatasi kelangkaan material kayu diciptakanlah bambu laminasi, semacam bambu olahan “siap saji” yang kekuatannya setara atau bahkan bisa lebih baik ketimbang papan laminasi yang berbahan dasar kayu.

Bambu cukup sulit untuk dirangkaikan soalnya bentuk aslinya yang berongga, tidak geometris dan penampangnya bukan berupa lingkaran sempurna. Tapi, penggabungan beberapa elemen berbentuk balok menjadi satu kesatuan dimungkinkan dengan teknik perekatan.

Bambu yang dipilih adalah bambu yang besar, kering, tebal dan tua, antara lain seperti bambu petung, andong, wulung atau mayan. Pertama-tama pangkal bambu dibuang, dipotong dengan mesin pemotong sampai berbentuk bilah-bilah memanjang. Kemudian disortir karena diameter bambu tidak mesti sama.

Selanjutnya potongan bambu tersebut diawetkan. Bilah bambu dimasukkan ke dalam wadah yang berisi larutan pengawet dan dikeringkan untuk mendapatkan kadar air yang pas.

Setelah itu, dilakukan proses kempa (pengimpitan) dengan material perekat sehingga taraaa…jadilah terbentuk bambu laminasi. Tapi eits tunggu dulu, bambu lapis masih harus di finishing, permukaannya dihaluskan, dicat dan kemudian divernis supaya jadi lebih estetis.

Penggunaan bambu sebagai bahan bangunan menjadi makin fleksibel berkat adanya teknik laminasi. Lebih eco friendly, jadi Kita pun turut berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan hidup.

Disadur dari klasika.kompas.id


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *