Dulu, beli rumah itu identik sama status “udah sukses”. Begitu sertifikat atas nama sendiri, rasanya kayak berasa jadi orang hebat. Tapi buat kaum milenial dan Gen Z di zaman sekarang ini, cara pandangnya udah beda. Rumah bukan lagi sekadar simbol pencapaian, tapi keputusan finansial yang harus dipikirin matang-matang. Nggak cuma soal gengsi, tapi juga soal realistis sama kondisi dompet dan fase hidup.

Data dari laporan 123 Property Recap: The Youth Move nunjukin kalau 63,5 persen pencarian rumah sepanjang 2025 datang dari usia 18–44 tahun. Rinciannya, umur 18–24 nyumbang 19,9 persen, usia 25–34 sebesar 25,6 persen, dan 35–44 sekitar 18 persen. Artinya jelas, anak muda sekarang jadi penggerak utama pasar properti.

Tapi jangan salah, rajin cari bukan berarti langsung beli. Banyak Gen Z yang scrolling listing rumah cuma buat riset. Mereka bandingin harga, cek lokasi, hitung cicilan, terus tutup aplikasi tanpa buru-buru deal. Buat mereka, prosesnya pelan tapi pasti.

Rumah “Cukup” Lebih Masuk Akal

Kalau generasi dulu identik sama rumah besar dan halaman luas, generasi sekarang lebih milih yang penting cukup. Data nunjukin 62,4 persen pencarian fokus ke rumah ukuran maksimal 150 meter persegi. Rumah kecil sampai menengah dianggap lebih realistis.

Alasannya simpel. Lebih terjangkau, biaya perawatan nggak bikin pusing, dan tetap fleksibel kalau suatu saat mau pindah atau upgrade. Sekarang, rumah besar bukan lagi lambang sukses. Yang penting fungsional, efisien, dan nggak bikin gaya hidup berantakan gara-gara cicilan.

Pinggir Kota Nggak Masalah, Asal Akses Aman

Soal lokasi juga udah beda mindset. Tangerang, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Bandung, sampai Jakarta Utara masih jadi incaran. Tapi kawasan sub-urban dengan akses transportasi bagus makin dilirik.

Buat milenial dan Gen Z, yang penting bukan jaraknya doang, tapi waktu tempuhnya. Selama ada kereta komuter, tol, atau transportasi umum yang gampang, tinggal agak pinggir kota pun nggak masalah. Mobilitas jadi faktor kunci.

Sewa Dulu, Beli Nanti

Kalau ngomongin apartemen, kebanyakan masih pilih sewa. Sekitar 71,6 persen minat apartemen itu buat disewa, bukan dibeli. Alasannya karena fleksibel dan cocok buat yang masih mobile atau belum siap komitmen jangka panjang.

Sementara rumah tapak lebih dilihat sebagai aset masa depan. Beli rumah sekarang bukan soal emosi, tapi strategi buat stabilitas.

Generasi yang Lebih Rasional

Milenial dan Gen Z bukan nggak mau punya rumah. Mereka cuma lebih sabar dan perhitungan. Semua dipikirin dari cicilan, lokasi, sampai potensi nilai investasi. Rumah bukan lagi lompatan besar sekali seumur hidup, tapi bagian dari rencana jangka panjang.

Dengan cara pikir yang lebih realistis dan fleksibel, generasi muda pelan-pelan ngebentuk wajah baru pasar properti. Lebih sadar arah, lebih hati-hati, tapi tetap punya mimpi yang jelas.

Disadur dari marketing.co.id


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× #WAAjaDulu