Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) membuka tahun 2026 lewat acara Silaturahmi dan Koordinasi Awal Tahun Ekosistem Perumahan. Acara yang digelar di Gedung Thamrin, Jakarta ini tak hanya sekedar rapat biasa, apalagi temu kangen, tetapi sebagai ajang para pemangku kepentingan untuk menyatukan visi dan komitmen demi pembangunan perumahan.
Menteri PKP Maruarar Sirait menegaskan, acara ini bukan sekadar formalitas. Buat dia, ini fondasi awal supaya urusan perumahan benar-benar naik kelas jadi agenda nasional, bukan cuma proyek sektoral yang jalan sendiri-sendiri.
Data Jadi Pegangan Utama
Dalam arahannya, Ara—sapaan akrab Maruarar—terus mengulang satu kata kunci: data. Menurutnya, tanpa data yang rapi dan bisa dicek, kebijakan perumahan gampang salah sasaran. Negara, kata Ara, harus hadir beneran buat rakyat. Dan kehadiran itu cuma bisa dibuktikan kalau setiap bantuan jelas alurnya, bisa diawasi, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Makanya, mekanisme check and balance jadi hal wajib. Bukan cuma biar bantuan cepat turun, tapi juga tepat ke yang benar-benar butuh. Di sisi lain, pemerintah juga ngebut mendorong pembangunan rumah susun subsidi buat masyarakat berpenghasilan rendah, terutama di kota-kota yang lahannya makin sempit.
Capaian 2025 Jadi Modal Kuat
Tahun 2025 jadi bekal penting buat loncat lebih jauh. Dengan pagu anggaran Rp5,27 triliun dan pagu efektif Rp4,53 triliun, realisasi program tembus 96,21 persen. Program BSPS naik signifikan, dari 38 ribu jadi 45 ribu unit. Pembangunan rumah susun, rumah khusus, sampai penanganan sanitasi dan kawasan kumuh juga jalan di ribuan titik.
Yang menarik, dunia usaha ikut turun tangan. Lewat program CSR, hampir 10 ribu unit rumah berhasil dibangun. Gotong royong yang sering cuma jadi slogan, kali ini kebukti lewat angka dan hasil nyata.
Target 2026 Makin Gede
Masuk 2026, skala mainnya beda. Dukungan APBN melonjak ke Rp10,41 triliun, hampir enam kali lipat dari tahun sebelumnya. Targetnya juga gak main-main: lebih dari 406 ribu unit rumah. Isinya 400 ribu unit BSPS, ratusan rumah susun dan rumah khusus, plus penanganan ratusan hektare kawasan kumuh.
Dari sisi pembiayaan, dukungannya juga kencang. BP Tapera mencatat penyaluran KPR FLPP tertinggi sepanjang sejarah. PNM lewat program Mekar bantu jutaan ibu rumah tangga buat bisa akses pembiayaan. Bank dan swasta lewat CSR ikut nambah tenaga dorong.
Sinergi Jadi Kunci Jalan Panjang
Buat pelaku industri, pertemuan ini jadi penanda era baru. Perumahan gak lagi cuma urusan teknis bangun rumah, tapi strategi besar buat ngedorong ekonomi rakyat. Kepala BPS pun ngasih apresiasi karena pendekatan berbasis data dinilai masih jarang dilakukan kementerian lain.
Silaturahmi awal tahun ini jadi sinyal jelas: arahnya sudah ada, kompasnya juga jelas. Tinggal jalan bareng. Dengan data yang kuat, sinergi lintas sektor, dan semangat gotong royong, perumahan nasional siap melangkah ke tujuan besar—Indonesia yang lebih layak huni dan berkeadilan.
Disadur dari pkp.go.id
0 Comments