Pemerintah baru aja ngenalin program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan alias Kredit Program Perumahan (KPP) lewat Permenko No. 13 Tahun 2025. Tujuannya buat bantu UMKM dan masyarakat supaya bisa beli, bangun, atau renov rumah, sekaligus nge-boost sektor properti biar ekonomi jalan.

Anggarannya gede banget, Rp130 triliun. Pinjaman maksimalnya Rp5 miliar buat pengembang dan Rp500 juta buat masyarakat, dengan bunga yang udah disubsidi pemerintah.

Skema KUR Perumahan dibagi jadi dua:

  1. Sisi Penyediaan Rumah (Supply)
    Buat pengembang, kontraktor, atau pedagang bahan bangunan. Plafonnya Rp500 juta–Rp5 miliar per pencairan, bisa sampai Rp25 miliar total (maksimal 4 kali akad). Duitnya bisa dipake buat beli tanah, bahan bangunan, atau biaya pembangunan.
  2. Sisi Permintaan Rumah (Demand)
    Buat individu atau UMKM yang butuh dana beli, bangun, atau renov rumah. Pinjamannya Rp10 juta–Rp500 juta dalam bentuk kredit investasi.

Syarat Pengajuan

  • Supply: Harus UMKM yang udah jalan minimal 6 bulan, punya NPWP, NIB, usaha produktif, laporan keuangan sederhana, dan nggak ada catatan kredit buruk di SLIK. Juga nggak boleh lagi nerima KUR lain barengan.
  • Demand: Individu atau UMKM yang pengen beli/bangun/renov rumah, wajib punya NPWP dan NIB (buat UMKM). Dana cuma boleh dipake sesuai tujuan, ada agunan berupa rumah/tanah yang dibiayai. Sama, nggak boleh lagi nerima KUR lain tapi boleh punya kredit komersial lancar.

Langkah Pengajuan

  1. Siapin Dokumen: KTP, KK, NPWP, NIB (buat usaha), laporan keuangan, bukti usaha min. 6 bulan, proposal rencana dana, plus dokumen agunan kayak sertifikat tanah/rumah.
  2. Pilih Penyalur: KUR Perumahan disalurin lewat bank Himbara (BRI, BTN, Mandiri, BNI) atau bank daerah kayak BJB.
  3. Daftar: Isi formulir di bank, lampirin dokumen, nanti dicek kelayakan lewat SLIK.
  4. Verifikasi: Bank bisa cek lapangan. Buat pengembang, mereka nilai proyek. Buat individu, dicek agunan dan tujuan dana.
  5. Pencairan: Kalau lolos, dana cair bisa langsung, bertahap, atau revolving.

Plafon, Tenor, dan Bunga

  • Supply: Plafon Rp500 juta–Rp5 miliar, maksimal Rp25 miliar. Tenor modal kerja 4 tahun, investasi 5 tahun (bisa diperpanjang). Bunga subsidi, debitur cuma bayar selisih (misalnya bunga pasar 11%, yang dibayar 6%).
  • Demand: Plafon Rp10 juta–Rp500 juta, tenor maksimal 5 tahun. Bunga subsidi 10% buat UMKM mikro, 5% buat UMKM kecil. Efektifnya 6–9% per tahun.

Dengan plafon Rp5 miliar aja, pengembang bisa bangun sekitar 38–40unit rumah tipe 36. Jadi program ini lumayan banget buat ngebantu rakyat punya rumah sekaligus bikin sektor properti makin jalan.

Disadur dari kompas.com


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× #WAAjaDulu