Setelah lama tertahan, industri properti nasional akhirnya mulai melihat sinyal positif. Tahun 2026 diprediksi jadi titik balik kebangkitan sektor ini. Panangian Simanungkalit selaku Anggota Satuan Tugas Perumahan, menilai pemulihan ekonomi yang sudah terasa sejak kuartal IV-2025 bisa jadi tonggak yang menggerakkan kembali pasar properti yang sempat lesu.

Momentum ini juga sejalan dengan program Tiga Juta Rumah yang diusung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Menurut Panangian, properti dan ekonomi itu seperti dua sisi mata uang. Begitu ekonomi mulai naik, sektor properti biasanya langsung ikut merespons.

Dari Tekanan Panjang ke Titik Balik
Panangian menjelaskan, lesunya properti dalam satu dekade terakhir tak bisa dilepaskan dari pertumbuhan ekonomi yang cenderung datar. Periode 2014–2024 mencatat rata-rata pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 4 persen, bahkan sempat makin tertekan akibat pandemi COVID-19. Dampaknya jelas: daya beli melemah dan geliat pembangunan properti ikut melambat.

Namun, grafik mulai menanjak. Pada kuartal IV-2025, ekonomi tumbuh 5,45 persen, lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya. Untuk 2026, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen, sementara Bank Indonesia mematok kisaran 5,1–5,6 persen. Bagi Panangian, angka-angka ini jadi tanda bahwa fase terendah sudah lewat.

Properti Selalu Mengikuti
Dalam teori growth elasticity, pertumbuhan properti biasanya 1,5 hingga 1,7 kali laju ekonomi. Artinya, kalau ekonomi tumbuh sekitar 5 persen, sektor properti bisa melonjak ke 8 persen, bahkan mendekati 10 persen. Pola ini pernah terjadi pada 2009–2012, saat properti bangkit lalu booming.

Properti juga sering jadi pilihan investasi saat ekonomi stabil dan harga komoditas naik. Kalau skenario ini terulang, siklus positif di sektor properti bukan hal mustahil.

Insentif dan Peran Pemerintah
Optimisme 2026 makin kuat dengan dukungan kebijakan pemerintah, mulai dari tren penurunan suku bunga hingga perpanjangan insentif PPN Ditanggung Pemerintah 100 persen. Menurut Panangian, tantangan terberat sudah dilewati. Sekarang, tinggal bagaimana pemerintah menjaga momentum ini tetap hidup.

Harapan pada Lembaga Baru
Panangian juga menaruh harapan besar pada rencana pembentukan Badan Percepatan Pembangunan Perumahan Rakyat (BP3R). Lembaga ini diharapkan jadi motor eksekusi kebijakan perumahan agar lebih cepat dan rapi. Terinspirasi dari Singapura dan Turki, BP3R diharapkan bisa jadi game changer.

Kalau semua faktor ini klop, 2026 bukan cuma soal pemulihan, tapi awal babak baru bagi industri properti nasional.

Disadur dari antaranews.com


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× #WAAjaDulu