Belakangan ini, genteng tanah liat lagi naik daun gara-gara disebut langsung sama Presiden Prabowo dalam wacana gerakan gentengisasi. Intinya, beliau pengin atap-atap rumah di Indonesia lebih banyak pakai genteng dibanding seng. Dari situ muncul pertanyaan: emang apa sih istimewanya genteng sampai dibikin gerakan segala?
Ternyata, menurut Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia, Georgius Budi Yulianto alias Boegar, genteng tanah liat itu bukan cuma penutup atap biasa. Material ini bagian dari warisan leluhur yang dari dulu emang dirancang cocok buat iklim tropis kayak di Indonesia.
“Paru-Paru” Buat Rumah
Salah satu keunggulan utama genteng tanah liat ada di kemampuannya bikin rumah lebih adem. Bahannya dari tanah liat yang dibakar, jadi punya pori-pori alami. Pori-pori ini bikin sirkulasi udara lebih enak dan responsif sama kelembapan.
Makanya, rumah yang pakai genteng tanah liat biasanya terasa lebih sejuk tanpa harus ngandelin AC terus-terusan. Dampaknya jelas: listrik lebih hemat, tagihan turun, dan emisi karbon juga bisa ditekan. Di tengah isu krisis energi dan perubahan iklim, keunggulan ini jadi makin relevan.
Lawan Efek Kota Makin Panas
Selain bikin adem di dalam rumah, genteng tanah liat juga bantu ngurangin efek Urban Heat Island, alias fenomena kota makin panas karena banyak permukaan bangunan yang nyerap dan mantulin panas berlebihan.
Genteng tanah liat sifatnya lebih menyerap dan nggak nyilauin. Jadi panas nggak dipantulin secara agresif ke lingkungan sekitar. Efeknya, suhu area sekitar rumah bisa lebih terkendali dibanding kalau pakai material atap yang gampang banget nyerap dan mantulin panas.
Ramah Lingkungan dan Pro Rakyat
Dari sisi lingkungan, genteng tanah liat juga dinilai lebih ramah dibanding beberapa material atap lain. Proses produksinya relatif sederhana, bahannya lokal, dan nggak butuh proses industri berat yang jejak karbonnya tinggi.
Menariknya lagi, produksi genteng tanah liat banyak dikerjakan skala rumahan atau UMKM. Artinya, kalau penggunaannya makin masif, ekonomi rakyat juga ikut bergerak. Jadi bukan cuma soal estetika atau nostalgia tradisional, tapi juga soal keberlanjutan dan keberpihakan ke ekonomi lokal.
Bukan Cuma Soal Tampilan
Prabowo sendiri menyoroti soal atap seng yang dianggap bikin rumah lebih panas dan gampang berkarat. Dari sisi tampilan juga dinilai kurang sedap dipandang. Makanya, dia dorong kepala daerah buat serius bikin kota, kecamatan, sampai desa jadi lebih indah.
Pada akhirnya, pilih genteng tanah liat bukan sekadar urusan gaya atau ikut tren. Ini soal kenyamanan termal, dampak lingkungan, dukungan ke ekonomi rakyat, dan identitas arsitektur tropis Indonesia. Kelihatannya simpel cuma ganti atap, tapi efeknya bisa panjang kalau dijalankan serius dan konsisten.
Disadur dari kompas.com
0 Comments