Kalau lagi nongkrong di sekitar Alun-Alun Kidul, nama Brongkos Handayani hampir pasti udah nggak asing lagi. Warung sederhana ini udah jadi jujukan kuliner legendaris di kawasan Njeron Beteng sejak puluhan tahun lalu.

Berdiri sejak 1975, tempatnya kecil banget—nggak sampai 10 meter persegi. Tapi jangan salah, pelanggan yang datang nggak pernah sepi. Bahkan, warung ini sampai punya beberapa karyawan buat bantu masak dan layani pembeli.

Dari Usaha Sederhana Jadi Ikonik

Awalnya, orang tua pemilik sekarang cuma jualan es campur dan pecel gendong. Baru kemudian beralih ke brongkos—menu khas Jogja yang ternyata punya cerita sendiri.

Menurut cerita, brongkos ini dulu jadi makanan favorit Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Jadi nggak heran kalau akhirnya jadi salah satu kuliner khas Jogja, bukan cuma gudeg aja yang terkenal.

Resep Lama, Rasa Tetap Sama

Sekarang usaha ini diterusin sama Tri Suparmi, generasi kedua dari pendiri warung. Walaupun cuma nerusin, dia pegang satu prinsip penting: rasa nggak boleh berubah.

Katanya, resep brongkos ini pakai sekitar 15 macam bumbu. Dan meskipun harga bahan naik, takaran tetap dijaga. Nggak dikurangin demi ngejar untung.

Hasilnya? Banyak pelanggan lama yang balik lagi setelah bertahun-tahun dan bilang rasanya masih sama kayak dulu.

Jualan di Tanah Keraton

Selama ini, warung ini berdiri di tanah magersari milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sistemnya sewa, dan tiap tahun bayar ke pihak keraton lewat Panitikismo.

Menariknya, mereka juga punya sertifikat kekancingan dari keraton, walaupun tulisannya masih pakai aksara Jawa.

Siap Pindah, Tapi Tetap Bertahan

Sejak 2015, pembayaran sewa udah nggak lagi diterima. Dari situ, pemilik mulai siap-siap kalau suatu saat harus pindah karena lahan bakal dipakai keraton.

Rencananya, warung ini bakal pindah ke sekitar Jalan Bugisan—nggak jauh dari lokasi sekarang dan lebih dekat ke rumah.

Lebih dari Sekadar Warung Makan

Brongkos Handayani bukan cuma soal makanan. Tempat ini udah jadi bagian dari sejarah kuliner Jogja.

Walaupun sederhana, warung ini buktiin kalau rasa yang konsisten dan kejujuran dalam masak bisa bikin usaha bertahan sampai puluhan tahun.

Dan buat banyak orang, semangkuk brongkos di sini bukan cuma soal kenyang—tapi juga soal nostalgia.

Disadur dari radarjogja.jawapos.com


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× #WAAjaDulu