Inggris sukses mengalahkan Norwegia 2-1 pada babak perempat final Piala Dunia 2026 lewat dua gol Jude Bellingham di babak tambahan waktu. Kemenangan itu membawa Inggris ke semifinal sekaligus mengakhiri mimpi Norwegia di lapangan hijau.
Namun, kalau pertandingan bergeser ke urusan ekonomi dan properti, hasilnya belum tentu sama. Inggris dan Norwegia sama-sama dikenal sebagai negara dengan kualitas hidup tinggi, tetapi keduanya punya keunggulan yang berbeda dalam urusan pendapatan, harga rumah, hingga peluang investasi.
Norwegia Unggul Soal Pendapatan
Berdasarkan data Wise, rata-rata gaji bersih warga Norwegia mencapai sekitar US$4.170 atau sekitar Rp75 juta per bulan. Angka ini lebih tinggi sekitar 15 persen dibandingkan Inggris yang rata-rata berada di kisaran US$3.628 atau sekitar Rp65 juta per bulan.
Selain pendapatan yang lebih besar, warga Norwegia juga didukung sistem kesejahteraan yang kuat dan perlindungan tenaga kerja yang baik. Kombinasi ini membuat daya beli masyarakat tetap terjaga meski biaya hidup di negara tersebut tergolong tinggi.
Sementara itu, Inggris tetap menjadi pusat ekonomi dunia dengan peluang karier besar, terutama di sektor keuangan, teknologi, dan industri kreatif. Hanya saja, kesenjangan pendapatan antarwilayah masih cukup terasa, terutama antara London dan kota-kota lainnya.
Harga Rumah Inggris Lebih Mahal
Pendapatan yang lebih tinggi ternyata tidak otomatis membuat harga rumah lebih murah. Justru Inggris memiliki harga properti yang lebih tinggi dibandingkan Norwegia.
Harga apartemen di pusat kota Inggris rata-rata mencapai sekitar Rp161 juta per meter persegi, sedangkan di Norwegia sekitar Rp142 juta. Di kawasan pinggiran, selisihnya memang tidak terlalu jauh, tetapi Inggris tetap sedikit lebih mahal.
Tingginya harga tersebut menunjukkan besarnya permintaan, terutama di kota-kota seperti London, Manchester, dan Birmingham yang terus menjadi tujuan investor dan ekspatriat dari berbagai negara.
Sewa Lebih Ringan di Norwegia
Perbedaan juga terlihat pada pasar sewa. Apartemen satu kamar di pusat kota Norwegia rata-rata disewakan sekitar Rp23 juta per bulan, sedangkan di Inggris mencapai sekitar Rp27 juta. Untuk hunian tiga kamar, biaya sewanya sekitar Rp39 juta di Norwegia dan Rp47 juta di Inggris.
Kalau dibandingkan dengan pendapatan masyarakat, warga Norwegia hanya mengalokasikan sekitar 31 persen gaji untuk menyewa apartemen satu kamar. Di Inggris, porsinya mencapai sekitar 42 persen. Artinya, masyarakat Norwegia masih memiliki ruang finansial yang lebih besar untuk menabung atau berinvestasi.
Siapa Pemenangnya?
Kalau ukurannya kenyamanan hidup dan keseimbangan keuangan, Norwegia layak unggul. Pendapatan yang lebih tinggi dan beban biaya hunian yang lebih ringan membuat kondisi finansial masyarakat relatif lebih sehat.
Sebaliknya, jika yang dicari adalah peluang investasi, Inggris masih menjadi primadona. Pasar propertinya lebih aktif, permintaannya tinggi, dan potensi capital gain maupun pendapatan sewa tetap menarik. Jadi, Inggris memang menang di lapangan sepak bola, tetapi dalam dunia properti, kedua negara punya kemenangan dengan cara yang berbeda.
Disadur dari timesofindia.indiatimes.com & livingcost.org
0 Comments