Kalau dulu cari rumah identik dengan buka portal properti atau langsung menghubungi agen, sekarang polanya mulai berubah. Banyak calon pembeli lebih dulu bertanya ke AI seperti ChatGPT, Gemini, Claude, atau Perplexity. Mulai dari menghitung kemampuan membeli rumah, simulasi KPR, membandingkan harga, sampai mencari tahu lingkungan yang cocok, semuanya bisa dikerjakan sat set dalam hitungan detik.
Survei Bank of America Homebuyer Insights Report menunjukkan satu dari lima calon pembeli sudah memanfaatkan AI saat mencari rumah. Tren ini paling terasa di kalangan anak muda. Sebanyak 28 persen milenial dan 32 persen Generasi Z menggunakan AI untuk mencari informasi sekaligus menyusun rencana keuangan sebelum membeli rumah.
Cepat Mencari, Belum Tentu Berani Memutuskan
AI memang jago mengolah informasi. Dalam waktu singkat, teknologi ini bisa merangkum data yang sebelumnya harus dicari dari banyak sumber. Proses riset jadi jauh lebih praktis dan efisien.
Namun, saat harus mengambil keputusan bernilai miliaran rupiah, cerita mulai berbeda. Survei menunjukkan mayoritas pembeli tetap mengandalkan agen properti untuk mendampingi survei lapangan, menjelaskan aspek hukum, memeriksa kontrak, hingga membantu proses negosiasi.
Menurut Matt Vernon, Kepala Consumer Lending Bank of America, AI adalah pintu masuk yang memudahkan orang memahami proses membeli rumah. Tetapi pengalaman, pengetahuan pasar, dan pendampingan dari tenaga profesional tetap menjadi faktor yang memberikan rasa aman.
Temuan dari perusahaan analitik properti Cotality juga memperkuat hal tersebut. Banyak calon pembeli bahkan rela membayar lebih agar informasi dari AI bisa diverifikasi oleh profesional sebelum mereka mengambil keputusan.
Agen Properti Ikut Beradaptasi
Perubahan ini juga memaksa agen properti beradaptasi. Kini, memiliki media sosial saja tidak cukup. Agen juga perlu membangun jejak digital yang mudah dikenali AI.
Laporan FlyDragon pada 2026 menyebut lebih dari 60 persen pencarian agen properti kini dimulai lewat platform AI. Sayangnya, hanya sebagian kecil agen yang muncul dalam rekomendasi. Karena itu, lahirlah strategi seperti Generative Engine Optimization (GEO) dan Answer Engine Optimization (AEO), yaitu upaya memperkuat profil digital, membagikan konten edukasi, dan membangun reputasi online agar lebih mudah ditemukan AI.
Contohnya datang dari Rick Janson, agen properti mewah di Denver. Berkat jejak digital yang kuat, Gemini merekomendasikan namanya kepada calon penjual rumah. Hasilnya, ia berhasil mendapatkan listing senilai sekitar 1,7 juta dolar AS tanpa proses pendekatan yang panjang.
Masa Depan Industri Properti
Bagi industri properti Indonesia, AI bukan ancaman, melainkan alat baru yang mempercepat pencarian informasi. Sementara itu, agen properti tetap memegang peran penting sebagai pendamping yang memahami kondisi pasar, mampu bernegosiasi, dan memberikan solusi sesuai kebutuhan pembeli.
Pada akhirnya, membeli rumah bukan sekadar soal data dan algoritma. Ini adalah keputusan besar yang tetap membutuhkan pengalaman, kepercayaan, dan sentuhan manusia. Di masa depan, AI dan agen properti kemungkinan besar akan menjadi pasangan yang saling melengkapi dalam membantu orang menemukan rumah impian.
Jika ingin dimuat di media seperti Kompas, Tempo, atau majalah bisnis, gaya bahasa ini juga bisa dibuat sedikit lebih elegan tanpa kehilangan nuansa santainya.
Disadur dari www.nar.realtor
0 Comments