Hashim Djojohadikusumo nyampein rencana Prabowo Subianto, presiden terpilih, yang mau bikin lagi Kementerian Perumahan terpisah dari Kementerian PUPR. Tujuannya biar pembangunan rumah bisa lebih fokus dan efektif, apalagi masalah perumahan di Indonesia tuh emang ribet banget.
Tapi, pengamat properti, Syarifah Syaukat, bilang kalo perumahan itu masalah yang rumit. Jadi, butuh menteri yang bener-bener paham sejarah kebijakan dan bisa bikin perubahan nyata, terutama buat masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Associate Director Leads Property, Martin Samuel Hutapea, juga ngomong kalo menteri perumahan nanti harus ngerti prioritas perumahan kayak populasi, daya beli, lokasi kerja, karakteristik tempat, dan lahan yang tersedia. Fokus utama harusnya ke orang yang kerja tapi masih susah punya rumah.
Sampai akhir masa jabatan Presiden Jokowi, masalah rumah masih jadi PR besar. Backlog perumahan alias kekurangan rumah mencapai 12,7 juta di tahun 2023. Backlog ini nunjukin ada kesenjangan antara rumah yang dibangun sama yang dibutuhin.
Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), backlog rumah di Indonesia ada di angka 9,9 juta. Tapi, angka ini masih dianggap indikatif karena cara surveinya. Ketua Umum Realestat Indonesia (REI), Joko Suranto, bilang belum ada data terbaru soal backlog.
Angkanya balik lagi ke 12,7 juta pada tahun 2023, padahal sempet turun jadi 9,9 juta di awal 2022. Di awal pemerintahan Jokowi, backlog sekitar 13 juta, tapi penurunannya lambat gara-gara berbagai kendala.
Pertama, anggaran buat perumahan kecil banget, cuma sekitar 0,6% dari APBN. Program Sejuta Rumah yang digagas Jokowi buat menyediakan rumah layak buat MBR juga masih terkendala kuota FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) yang rendah. Sampai Agustus 2024, kuotanya cuma 166.000, terus dinaikin jadi 200.000.
Masalah lainnya ada di regulasi yang belum sepenuhnya mendukung. Joko juga bilang penting banget buat bikin kebijakan yang mendukung pembangunan rumah lebih cepet, kayak kemudahan izin dan insentif pajak. Selain itu, sektor properti juga harus jadi program stabilisasi nasional buat bantu ekonomi.
Terakhir, Joko ngasih saran biar Kementerian Perumahan dipisah lagi. Soalnya, masalah rumah itu kompleks banget dan butuh perhatian khusus. Dengan kementerian yang fokus, harapannya backlog dan krisis perumahan bisa diselesaikan lebih optimal.
Disadur dari kompas.com & detik.com
0 Comments