Krisis iklim udah nggak bisa dianggap angin lalu. Dampaknya nyata, bahkan menurut Sri Mulyani, bisa ngurangin PDB Indonesia sampai 10 persen di 2025. Sektor properti dan konstruksi, yang nyumbang hampir 40 persen emisi global, jadi sorotan besar. Ironisnya, sektor ini justru bisa jadi kunci solusi lewat konsep perumahan rendah emisi (PRE).
PRE bukan cuma soal bikin rumah lebih ramah lingkungan, tapi juga bisa jadi motor baru buat ekonomi sirkular. Efek berantainya gede: dari nyediain lapangan kerja hijau, narik investasi berkelanjutan, sampai bikin UMKM dan startup berbasis teknologi ramah lingkungan ikutan tumbuh.
Contohnya udah kelihatan di proyek BTN di Bekasi. Lebih dari 1,7 juta kilo sampah plastik berhasil diolah jadi paving block dan decking lantai. Jadi, yang tadinya limbah, sekarang jadi material konstruksi kuat dan bernilai. UMKM lokal pun kecipratan rezeki karena dapet pasar baru dan bahan baku yang jelas.
Properti emang punya multiplier effect luar biasa. Bayangin, satu rumah aja bisa melibatkan rata-rata lima pekerja, dan 90 persen bahan bangunannya disuplai dari masyarakat sekitar. Lebih dari 7.000 pengembang aktif di Indonesia ikut jadi tulang punggung. Nah, kalau konsep PRE benar-benar jalan, potensi efek ganda ini makin besar.
Ekonomi sirkular jadi makin nyata: plastik yang tadinya bikin polusi, sekarang masuk rantai nilai baru. Dari pemulung, UMKM daur ulang, pabrik material, sampai developer, semua kecipratan dampak positif. Lingkungan bersih, ekonomi jalan, lapangan kerja hijau tercipta.
Tantangannya? Masih ada. Biaya awal cukup tinggi, pasokan material ramah lingkungan terbatas, dan infrastruktur energi hijau belum merata. Tapi negara lain udah buktiin bisa. Belanda punya regulasi material daur ulang, Brasil bikin perumahan hijau untuk masyarakat menengah bawah, Singapura kasih insentif Green Mark. Indonesia pun bisa, asal ada keberanian bikin regulasi plus insentif jelas.
Bayangin kalau pemerintah berani pasang target 30 persen rumah baru pakai material daur ulang di 2030. Itu bakal jadi game changer. PRE nggak cuma jadi solusi lingkungan, tapi juga pondasi ekonomi hijau Indonesia. Dari rumah jadi ekosistem, dari limbah jadi nilai tambah.
Pada akhirnya, PRE adalah keputusan: mau terus terjebak sama masalah lama, atau berani ubah krisis jadi peluang. Masa depan ekonomi hijau nggak datang dari wacana, tapi dari langkah nyata hari ini.
Disadur dari infobanknews.com
0 Comments