Di tengah padatnya gedung dan beton Jakarta, ada perubahan besar yang lagi jalan pelan tapi pasti: perkantoran hijau alias green office makin mendominasi kawasan Central Business District.
Menjelang akhir 2025, gedung ramah lingkungan bukan lagi sekadar gaya-gayaan atau pajangan sertifikat di lobi, tapi sudah jadi standar baru dunia perkantoran. Data terbaru nunjukin, total green office di CBD Jakarta sekarang tembus 2,7 juta meter persegi dari total stok perkantoran 7,3 juta meter persegi.
Kalau dibayangin, luasnya setara sekitar 378 lapangan sepak bola standar internasional. Angka yang gede banget, apalagi kalau dibandingin sama periode 2019–2020 yang bahkan belum nyentuh 1 juta meter persegi.
Lonjakan ini nunjukin satu hal: pasar perkantoran Jakarta makin dewasa. Gedung hijau sekarang bukan cuma soal desain ramah lingkungan, tapi soal efisiensi operasional sehari-hari. Mulai dari penghematan listrik dan air, sistem manajemen energi pintar buat ngurangin pemborosan, sampai strategi penurunan emisi yang sejalan dengan target net zero.
Faktor kenyamanan dan kesehatan karyawan juga jadi perhatian, lewat pemilihan material bangunan yang lebih aman dan lokasi gedung yang dekat transportasi publik supaya jejak karbon mobilitas bisa ditekan.
Perubahan paling kelihatan ada di segmen gedung kelas atas. Hampir 88 persen gedung kantor Premium Grade A di CBD Jakarta sudah berlabel hijau. Bahkan di kelas Grade A, sekitar setengah stok ruang kantornya juga sudah mengantongi sertifikasi serupa.
Buat penyewa kelas ini, green office bukan lagi nilai tambah, tapi syarat wajib. Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, bilang gedung hijau sekarang jadi pembeda penting di tengah pasar perkantoran Jakarta yang stoknya lagi melimpah.
Soal tingkat hunian, green office juga punya performa lebih stabil. Okupansinya rata-rata di angka 78 persen, sedikit lebih tinggi dibanding gedung non-hijau yang bertahan di kisaran 75 persen dalam lima tahun terakhir.
Pendorong utamanya adalah perusahaan multinasional dan korporasi besar yang makin serius sama isu ESG. Mereka bukan cuma cari ruang kerja, tapi juga bukti nyata komitmen lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik. Bahkan, konsep ini sekarang sudah masuk ke perjanjian sewa lewat klausul hijau.
Ke depan, tantangan tetap ada, terutama soal harga sewa dan persaingan pasokan. Tapi arahnya jelas. Tahun 2026 diprediksi bakal makin selektif, dengan permintaan fokus ke gedung berkualitas tinggi, berkonsep ESG, dan berlokasi strategis. Green office bukan lagi masa depan, tapi realitas yang lagi membentuk wajah baru perkantoran Jakarta.
Disadur dari kompas.com
0 Comments