Pasar properti sekarang lagi rame banget. Banyak orang berlomba-lomba beli rumah demi satu tujuan: punya hunian sendiri. Tapi di balik peluang itu, ada juga jebakan betmen yang musti diwaspadai.

Kasus penipuan jual beli rumah makin sering kejadian. Biasanya karena pembeli kurang info atau terlalu cepat percaya. Kata Febrian Willy Atmaja, ada beberapa pola modus yang sering berulang dan penting banget buat diwaspadai.

Rumah Dijual, Tapi Tanahnya Belum Beres

Salah satu modus yang sering kejadian adalah developer jual rumah di atas tanah yang statusnya belum jelas. Bahkan ada yang lebih parah—rumah udah dipasarkan, tapi tanahnya sendiri belum lunas.

Ada juga yang jual proyek padahal masih berupa tanah kosong. Padahal, sesuai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, pengembang wajib memenuhi syarat dulu sebelum jualan. Mulai dari status tanah jelas, izin lengkap, sampai fasilitas dasar tersedia. Kalau ini dilanggar, yang kena dampaknya ya pembeli.

Diminta Bayar Lunas di Awal

Modus lain yang sering bikin orang kejebak adalah diminta bayar hampir atau langsung lunas dari awal. Padahal proyeknya sendiri belum siap atau syaratnya belum lengkap.

Buat yang belum paham, ini sering dianggap wajar. Padahal justru red flag.

Secara hukum, praktik kayak gini bisa kena sanksi berat. Tapi di lapangan, masih banyak kejadian karena pembeli nggak ngecek detailnya dulu.

Brosur Cakep, Realita Ngecewain

Ini yang paling klasik. Brosur kelihatan mewah: desain keren, fasilitas lengkap, lokasi strategis. Harganya juga sering keliatan “murah banget”.

Masalahnya, realita sering beda jauh. Luas bangunan bisa lebih kecil, material nggak sesuai, bahkan fasilitas yang dijanjikan nggak pernah ada.

Padahal ini juga termasuk pelanggaran dan bisa kena sanksi. Tapi biasanya pembeli baru sadar setelah semuanya terlanjur.

Jangan Cuma Tergiur Harga

Dari semua kasus itu, ada satu pelajaran penting: jangan asal percaya. Banyak orang terlalu fokus sama harga murah atau promo, tapi lupa ngecek hal penting kayak legalitas tanah, izin, dan progres pembangunan. Padahal, beli rumah itu keputusan besar. Nggak cukup cuma lihat iklan atau janji manis.

Lebih aman kalau dicek dari awal—mulai dari status tanah sampai kondisi nyata di lapangan. Karena di dunia properti, yang keliatan meyakinkan belum tentu benar-benar aman.

Disadur dari detik.com


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× #WAAjaDulu