Memiliki rumah sendiri masih menjadi cita-cita banyak generasi milenial. Sayangnya, impian itu makin sulit diwujudkan karena harga properti terus naik, sementara pendapatan dan kemampuan finansial belum mampu mengimbanginya.

Fenomena ini ternyata bukan cuma terjadi di Indonesia. Survei Home Affordability Survey 2025 dari Bankrate di Amerika Serikat menunjukkan satu dari enam calon pembeli rumah akhirnya membatalkan niat membeli karena tidak menemukan rumah yang sesuai dengan kondisi keuangan mereka.

Di Indonesia, tantangannya juga nggak kalah berat. Bahkan, laporan The Economist menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan harga rumah paling tidak terjangkau di dunia.

Gaji Pas-Pasan, Rumah Makin Mahal

Banyak milenial mengaku masih ingin punya rumah, tetapi kondisi ekonomi saat ini membuat mereka harus berpikir dua kali sebelum membeli.

Abel Anita, warga Jakarta, mengatakan sebagian orang kini lebih memilih tetap mengontrak sambil menabung atau berinvestasi terlebih dahulu. Menurutnya, penghasilan sekitar Rp8 juta hingga Rp10 juta per bulan baru mulai cukup untuk mempertimbangkan membeli rumah. Namun, kebutuhan hidup sehari-hari membuat mengumpulkan uang muka tetap terasa berat.

Selain itu, cicilan KPR juga menjadi tantangan, terutama ketika bunga kredit berubah mengikuti kondisi pasar. Akibatnya, angsuran bisa semakin besar dan memberatkan pemilik rumah.

Rumah Terjangkau Lokasinya Makin Jauh

Keluhan serupa datang dari Ghina Nanda, warga Depok. Menurutnya, rumah masih menjadi impian generasi muda, tetapi harga properti yang terus naik membuat akses kepemilikan rumah semakin sulit.

Program rumah subsidi memang ada, tetapi lokasinya sering kali jauh dari pusat kota atau tempat kerja. Akibatnya, biaya transportasi bertambah dan waktu perjalanan menjadi lebih lama.

Ghina mencontohkan, harga rumah di kawasan Depok terus meningkat. Bahkan rumah yang berada di dalam gang kini banyak dijual dengan harga mendekati Rp1 miliar.

UMR Sulit Mengejar Harga Properti

Doni, warga Jakarta Utara, juga menilai harga rumah saat ini sudah jauh melampaui kemampuan sebagian besar pekerja. Menurutnya, upah minimum lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, bukan untuk membeli rumah, apalagi bagi mereka yang sudah berkeluarga.

Kondisi ini membuat banyak orang harus menunda impian memiliki rumah sendiri meski sudah bekerja selama bertahun-tahun.

Banyak yang Pilih Kontrak Dulu

Di tengah harga rumah yang terus melambung dan biaya hidup yang semakin tinggi, banyak milenial akhirnya memilih tetap mengontrak, tinggal lebih lama bersama orang tua, atau mencari rumah di wilayah yang lebih jauh dari pusat kota agar harganya lebih terjangkau.

Bagi generasi muda saat ini, tantangan terbesar bukan lagi soal keinginan memiliki rumah, tetapi bagaimana mengejar harga properti yang terus naik sementara pendapatan belum ikut bertumbuh. Kondisi inilah yang membuat impian punya rumah sendiri terasa semakin berat untuk diwujudkan.

Disadur dari cnbcindonesia.com


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× #WAAjaDulu