Sektor properti menutup 2025 dengan happy ending. Penyaluran kredit ke sektor ini tercatat tumbuh 13,0 persen secara tahunan dan tembus Rp 1.597,7 triliun. Angka ini jadi sinyal kalau industri properti mulai bangkit setelah sempat melambat dalam beberapa tahun terakhir.
KPR dan Real Estate Tumbuh Stabil
Berdasarkan data Uang Beredar (M2) Bank Indonesia, kredit properti untuk KPR dan KPA masih bergerak cukup aman. Sepanjang 2025, pembiayaan di segmen ini tumbuh 6,8 persen year on year menjadi Rp 850,5 triliun.
Sementara itu, kredit real estate juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 8,6 persen menjadi Rp 253,2 triliun. Artinya, minat terhadap pengembangan dan kepemilikan properti masih terjaga meski pasar belum sepenuhnya agresif.
Konstruksi Jadi Mesin Utama
Lonjakan paling terasa datang dari segmen konstruksi. Kredit properti ke sektor ini melonjak tajam hingga 28,2 persen secara tahunan menjadi Rp 504,0 triliun pada Desember 2025. Bagi pelaku konstruksi, capaian ini jadi angin segar setelah dua tahun terakhir bergerak di tempat, bahkan sempat terkontraksi. Kredit yang kembali deras menandakan proyek-proyek mulai jalan lagi dan kepercayaan perbankan ikut pulih.
Tren Tiga Tahun Terakhir
Kalau dilihat dari pergerakan beberapa tahun ke belakang, kredit properti sempat tumbuh terbatas. Pada 2023, pertumbuhannya di angka 7,6 persen, lalu melambat ke 6,6 persen pada 2024. Lonjakan ke 13,0 persen di 2025 menjadi pembalikan arah yang cukup signifikan bagi industri.
Prospek Properti di 2026
Masuk 2026, sektor properti dinilai masih punya peluang cerah. Sejumlah faktor jadi penopang, mulai dari potensi penurunan suku bunga kredit, insentif PPN Ditanggung Pemerintah untuk pembelian rumah tapak dan rusun, sampai harapan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik demi memulihkan daya beli masyarakat.
Survei Property Outlook oleh Knight Frank Indonesia memprediksi sektor properti nasional tetap tumbuh di 2026. Meski begitu, mayoritas pemangku kepentingan menilai pertumbuhan investasi masih akan berjalan moderat.
Pergudangan Masih Unggul, Sektor Lain Ikut Ngegas
Subsektor industri dan pergudangan diperkirakan tetap jadi andalan utama. Selain itu, pengembang juga melihat peluang di hotel dan apartemen sewa. Sektor gaya hidup, e-commerce, energi terbarukan, pariwisata, serta makanan dan minuman disebut punya efek dorong positif ke pasar properti.
Tantangan Masih Mengintai
Meski arahnya positif, pelaku industri tetap mewaspadai sejumlah risiko. Pelemahan daya beli, harga tanah yang makin mahal, dan tekanan inflasi masih jadi tantangan yang bisa menahan laju pertumbuhan properti sepanjang 2026.
Disadur dari investor.id
0 Comments