Di Denpasar yang terkenal tenang, cerita Hartono justru kebalikannya. Rumah yang harusnya jadi tempat paling aman, malah berubah jadi sumber stres.
Dia ngaku jadi korban dugaan penipuan, penyerobotan, sampai pemalsuan dokumen yang melibatkan komplotan mafia properti. Kasus ini akhirnya dilaporkan ke Polresta Denpasar, dengan harapan ada kejelasan hukum.
Masalah Sepele yang Jadi Bumerang
Menurut kuasa hukumnya, Made Somya Putra, semua ini berawal dari hal yang kelihatannya kecil: kesalahan gambar situasi di sertifikat.
Gara-gara itu, titik koordinat sempat nyasar ke rumah Hartono. Dari situ masalah melebar ke mana-mana, bahkan sampai nyeret rumahnya ke proses lelang yang sebenarnya bukan miliknya.
Padahal, objek lelang itu rumah lain. Tapi karena data kacau, rumah Hartono ikut kebawa arus.
Udah Diurus, Tapi Nggak Kelar-Kelar
Hartono sebenarnya nggak diam. Dia udah coba berbagai cara, mulai dari somasi, laporan ke KPKNL, sampai mediasi. Bahkan sempat ada kesepakatan kalau data bakal diperbaiki lewat Badan Pertanahan Nasional.
Pengukuran ulang juga sudah dilakukan sejak 2023. Tapi kenyataannya, masalah tetap belum beres.
Di sisi lain, pengukuran sertifikat pihak lain malah terhambat karena ada yang menguasai objeknya. Alhasil, proses penyelesaian jadi stuck.
Tiba-Tiba Ada yang Ngaku Beli
Situasi makin aneh waktu ada pihak yang tiba-tiba ngaku sudah beli rumah itu di Maret 2026. Nggak lama setelah itu, ada orang datang langsung ke rumah buat nanya soal transaksi.
Padahal, Hartono jelas bilang dia nggak pernah jual, nggak pernah gadai, dan nggak punya utang apa pun terkait rumah tersebut.
Buat jaga-jaga, dia sampai pasang pengumuman kalau rumah itu nggak dijual dan nggak lagi dalam proses lelang.
Rugi Uang, Kena Mental Juga
Kerugian yang dialami Hartono ditaksir lebih dari Rp300 juta sejak 2021. Tapi bukan cuma soal uang.
Tekanan mentalnya juga berat. Tinggal di rumah sendiri tapi tiap saat was-was, takut ada orang datang dan ngaku punya hak atas properti itu.
Jangan Anggap Sepele Urusan Properti
Kasus ini jadi pengingat kalau urusan properti nggak selalu sesimpel jual beli biasa. Ada banyak risiko yang sering nggak kelihatan—mulai dari kesalahan data, celah hukum, sampai dugaan permainan oknum.
Hartono sendiri cuma pengen satu hal: kepastian hukum atas rumahnya.
Dan itu hal yang wajar. Karena pada akhirnya, rumah bukan cuma aset, tapi tempat buat ngerasa aman.
Disadur dari baliberkarya.com
0 Comments