Pernyataan Mahfud MD lagi ramai dibahas setelah muncul di kajian yang tayang di YouTube Masjid Jogokaryan Yogyakarta, 27 Februari 2026. Intinya satu: masalah besar di hukum Indonesia bukan cuma soal menang di pengadilan, tapi gimana putusan itu benar-benar dijalankan.
Mahfud ngangkat fenomena yang udah lama jadi rahasia umum—mafia peradilan dan lemahnya eksekusi putusan, terutama di kasus sengketa tanah. Dari ceramah yang beredar luas itu, kelihatan jelas kalau problemnya bukan teori, tapi realita yang kejadian langsung di lapangan.
Kasus 9 Tahun yang Nggak Kelar-Kelar
Salah satu contoh yang dibahas cukup bikin geleng kepala. Ada sengketa tanah di Bekasi yang udah berjalan sejak 2017. Secara hukum, pemilik sah udah menang sampai tingkat kasasi dan peninjauan kembali.
Harusnya selesai, kan? Tapi kenyataannya, sampai 2026 eksekusi belum juga dilakukan.
Hampir sembilan tahun jalan, tapi nggak ada kepastian. Ini nunjukin kalau proses hukum di Indonesia bisa panjang banget, bahkan setelah putusan final keluar. Masalahnya bukan lagi siapa yang menang, tapi kenapa putusan itu nggak dijalankan.
Ada “Backingan” yang Bikin Mandek
Mahfud juga cerita kalau dulu sempat ada usaha buat bantu dorong eksekusi lewat komunikasi dengan pihak terkait. Tapi hasilnya nihil. Katanya, ada “backing kuat” yang bikin proses jadi mentok.
Istilah ini emang nggak dijelasin detail, tapi cukup buat kasih gambaran kalau ada kekuatan di balik layar yang bisa nahan jalannya hukum. Akibatnya, pihak yang udah menang malah harus terus berjuang, bahkan sampai kirim surat ke Mahkamah Agung dan Kejaksaan, tapi tetap belum ada hasil.
Pola Lama: Digugat Lagi, Muter Lagi
Mahfud juga ngejelasin pola klasik di sengketa tanah. Setelah satu pihak menang, pihak lain ngajukan gugatan baru. Alhasil, proses hukum muter lagi dari awal.
Siklus ini bisa kejadian berkali-kali, bikin eksekusi putusan yang udah inkrah jadi ketunda terus. Belum lagi ada dugaan praktik perantara, termasuk biaya-biaya di luar aturan resmi.
Celah kayak gini bikin sistem hukum jadi gampang dimanfaatin oknum tertentu.
Dampaknya: Nggak Aman Buat Pemilik dan Investor
Situasi ini jelas berdampak besar. Buat masyarakat, punya sertifikat tanah ternyata belum tentu aman kalau eksekusi hukum aja lemah.
Buat investor juga sama. Mereka butuh kepastian, bukan cuma di atas kertas, tapi juga di lapangan. Kalau putusan pengadilan aja nggak bisa dijalankan, risiko investasi jadi makin tinggi.
Akhirnya, kepercayaan ke sistem hukum bisa turun. Dan kalau ini terus dibiarkan, masalahnya bukan cuma di satu kasus, tapi bisa ganggu stabilitas sektor properti secara keseluruhan.
Disadur dari https://www.youtube.com/watch?v=pgTRcNEuS10
0 Comments