Salah satu faktor penyebab kurang pasok hunian alias backlog di Indonesia adalah masalah ketersediaan dan harga lahan. Mengerjakan proyek hunian vertikal dinilai menjadi solusi permasalahan yang biasanya muncul di kota besar.

Metode hunian yang tengah digalakkan oleh pengembang adalah Transit Oriented Development (TOD). Selain menjadi solusi terhadap keterserdiaan lahan, konsep ini juga dinilai unggul lantaran lokasinya yang tak jauh dengan moda transportasi kota besar.

Ali Tranghanda, Excecutive Director Indonesia Property Watch (IPW) sekaligus pengamat properti juga sepakat dengan konsep hunian TOD ini lantaran harga tanah yang terus melejit, sehingga pemerintah serta lahan-lahan BUMN harus diamankan dan dikembangkan TOD.

“Untuk itu, diperlukan terobosan dalam hal penyediaan hunian yang mampu mengatasi permasalahan tersebut, salah satunya seperti pengembangan kawasan hunian berbasis TOD yang pertama kali diperkenalkan dan dipelopori Perum Perumnas,” ungkap Ali dalam keterangannya, Minggu (28/5/2023).

Di lain pihak, Ferry Salanto, Senior Associate Director Colliers Indonesia yang menyampaikan bahwa hunian dengan konsep TOD makin diminati di sela-sela persoalan kenaikan harga BBM & pajak kendaraan bermotor, pembatasan plat ganjil/genap serta rencana penerapan ERP di sejumlah jalan.

“Peluang hunian TOD di DKI Jakarta menjelaskan bagaimana pengembangkan konsep TOD didorong oleh tren pembangunan sarana transportasi massal”, terang Ferry.

Sementara itu, Budi Saddewa Soediro selaku Dirut Perum Perumnas mengaku, sebagai pengembang, pihaknya selalu menyambar peluang bisnis guna menyediakan tempat tinggal yang layak dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

“Perumnas bertekad untuk menyediakan hunian bagi masyarakat Indonesia, pembangunan proyek-proyek TOD ini diharapkan mampu memberikan dampak positif pada pengurangan angka backlog di Indonesia sekaligus menjadi benchmark pembangunan hunian terintegrasi transportasi di kota-kota lain”, ujarnya.

Disadur dari detik.com

Leave A Reply