Warga Surabaya pasti udah nggak asing sama Gedung Internatio alias Internationale Crediten Handelvereeninging. Bangunan bersejarah ini berdiri megah sejak tahun 1927, hasil rancangan arsitek Belanda, Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels, dari biro Algemeen Ingenieurs en Architecten Bureau (AIA Arsitech). Lokasinya ada di sudut Jalan Herenstraat dan Willemsplein—sekarang dikenal sekitar Jembatan Merah.

Awalnya, gedung ini dibuat buat ngurus perdagangan dan investasi Hindia Belanda. Tapi fungsinya berubah total setelah Indonesia mulai berjuang merdeka. Waktu pasukan Sekutu mendarat di Surabaya tanggal 25 Oktober 1945, gedung ini langsung dijadikan markas militer Inggris.

Kedatangan pasukan Sekutu sebenarnya sempat molor karena rencananya bocor setelah Kapten Huijer tertangkap pemuda Surabaya. Beberapa hari setelah itu, situasi kota makin panas. Terjadi pertempuran selama tiga hari sampai akhir Oktober 1945. Melihat kondisi makin kacau, Komandan Inggris Brigjen A. W. S. Mallaby minta bantuan ke Jakarta. Soekarno, Hatta, dan Amir Sjarifuddin akhirnya datang ke Surabaya buat negosiasi gencatan senjata pada 29 Oktober 1945.

Besoknya, setelah rombongan Jakarta balik, Mallaby keliling kota bareng pejabat Surabaya, termasuk Dr. Sugiri, buat nyebarin hasil kesepakatan damai. Tapi di lapangan, tembak-menembak kecil masih terus terjadi. Mallaby kemudian mendatangi Gedung Internatio yang saat itu diduduki Inggris di bawah pimpinan Mayor V. Gopal, tapi posisinya udah dikepung arek-arek Suroboyo.

Situasi makin panas. Rakyat nggak percaya begitu aja sama perintah gencatan senjata. Massa mengepung mobil Mallaby. Saat itu, Mallaby nyuruh ajudannya, Kapten Shaw, buat kasih perintah ke dalam gedung. Tapi salah paham terjadi. Salah satu prajurit Inggris di dalam, Mayor Gopal, tiba-tiba buka tembakan. Suara rentetan peluru bikin suasana makin kacau.

Pejuang-pejuang Indonesia yang ada di luar langsung nyebar, sementara mobil Mallaby kena lemparan granat dan meledak. Mallaby tewas di tempat. Peristiwa ini jadi pemicu utama meledaknya pertempuran besar 10 November 1945, yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan.

Setelah perang usai, Gedung Internatio sempat difungsikan sebagai terminal di kawasan Jembatan Merah Plaza (JMP), lalu diubah jadi taman bernama Taman Jayengrono, Taman Sejarah, dan Taman Monumen Jembatan Merah. Sekarang, bangunan bersejarah ini dikelola oleh PT Tjipta Niaga dan dipakai sebagai tempat percetakan.

Gedung ini bukan cuma bangunan tua, tapi juga saksi hidup perjuangan rakyat Surabaya mempertahankan kemerdekaan.

Disadur dari kompas.com


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× #WAAjaDulu