Mau beli atau nyewa rumah jelas butuh pertimbangan matang, apalagi in this economy yang lagi nggak jelas. Biasanya orang fokus ke lokasi, harga, atau fasilitas. Tapi ada satu faktor yang sering diam-diam bikin orang mundur, yaitu reputasi rumah itu sendiri. Di banyak negara Asia, rumah yang disebut “berhantu” biasanya langsung dihindari. Tapi hal itu sama sekali nggak berlaku buat orang ini.
Namanya Ng Goon-lau, investor senior berusia 70 tahun asal Hong Kong yang sudah puluhan tahun terkenal sebagai pemilik deretan apartemen berhantu. Sampai-sampai ia dijuluki “King of Haunted Houses”. Buat Ng, reputasi angker bukan halangan, tapi peluang cuan. Sementara pemilik lain panik karena rumahnya nggak laku akibat stigma, Ng justru datang sebagai pembeli yang siap menampung properti yang ditakuti banyak orang.
Biasanya rumah-rumah ini punya sejarah kematian, tragedi, atau cerita mistis yang bikin bank malas memberi KPR karena dianggap terlalu berisiko. Pemilik terpaksa menjual dengan harga miring. Di sinilah Ng masuk, membeli dengan harga murah, lalu menyewakannya kembali dengan tarif sekitar 30 persen di bawah harga pasar. Di kota semahal Hong Kong, potongan harga sebesar itu bikin banyak orang lebih memilih hemat ketimbang mikirin cerita angker.
Menurut Ng, banyak penyewa lebih peduli ke harga daripada reputasi. Tapi ia tetap pilih-pilih. Rumah yang punya sejarah pembunuhan brutal atau kasus kematian yang masih baru biasanya dia hindari. Ia lebih suka tempat yang tragedinya sudah lama terjadi dan sudah tidak terlalu melekat di ingatan masyarakat.
Walau bisnisnya lumayan lancar, bukan berarti tanpa insiden. Ng pernah dapat penyewa yang tiba-tiba pindah cuma beberapa hari setelah menempati unit. Tetangga bilang penyewa itu kabur karena anaknya yang masih tiga tahun diduga kesurupan setelah membaca buku tengah malam. Kisah-kisah seperti ini bikin bisnis rumah berhantu tetap penuh misteri.
Secara ekonomi, efek rumah berhantu memang nyata. Studi menunjukkan harga rumah yang dicap berhantu bisa turun 20 sampai 34 persen, terutama jika ada kasus pembunuhan. Unit-unit di sekitarnya juga ikut kena imbas. Faktor budaya, terutama kepercayaan pada feng shui, makin memperkuat penolakan masyarakat terhadap properti seperti ini.
Meski tidak diwajibkan secara hukum, agen properti di Hong Kong harus jujur soal riwayat kematian di sebuah unit. Bagi pembeli, informasi ini jadi hal penting yang bisa menentukan harga.
Namun, di balik stigma itu, Ng Goon-lau melihat peluang menyediakan hunian murah di salah satu kota termahal dunia. Dengan pendekatan yang nggak biasa, ia mengubah rumah yang ditakuti menjadi aset berharga, sekaligus membuka bab baru dalam dunia properti Hong Kong.
Disadur dari detik.com
0 Comments