K
alau sering lihat film Hollywood, pasti sadar kalau banyak rumah di Amerika atau Eropa punya basement. Ruang bawah tanah ini biasanya dipakai buat garasi, gudang, ruang santai, bahkan tempat kerja. Tapi di Indonesia, rumah dengan basement masih tergolong langka.
Menurut Wakil Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI), Bambang Ekajaya, ada beberapa alasan yang bikin basement kurang diminati. Faktor utamanya bukan soal tren, melainkan biaya, kondisi lingkungan, dan kebutuhan masyarakat.
Biaya Bangunnya Jauh Lebih Mahal
Alasan paling besar adalah biaya konstruksi. Membangun basement jauh lebih rumit dibandingkan menambah lantai di atas rumah.
Prosesnya membutuhkan penggalian tanah, struktur penahan, sistem kedap air, hingga teknik konstruksi khusus agar bangunan tetap aman. Akibatnya, biaya pembangunan basement bisa mencapai dua hingga tiga kali lebih mahal dibandingkan membangun lantai dua atau tiga.
Karena pertimbangannya lebih ekonomis, banyak pemilik rumah akhirnya memilih membangun ke atas daripada menggali ke bawah.
Perawatannya Juga Nggak Murah
Bukan cuma saat membangun, biaya perawatan basement juga cukup besar. Ruang bawah tanah harus dilengkapi sistem drainase yang baik, termasuk sump pit atau penampungan air dan pompa untuk membuang air keluar.
Kalau sistem ini bermasalah, basement bisa mengalami rembesan atau bahkan kebanjiran, terutama saat musim hujan. Artinya, pemilik rumah juga harus rutin merawat sistem tersebut agar tetap berfungsi dengan baik.
Curah Hujan Tinggi Jadi Tantangan
Indonesia memiliki curah hujan yang tinggi, bahkan beberapa kota seperti Jakarta masih sering mengalami banjir. Kondisi ini membuat pembangunan basement memiliki risiko lebih besar dibandingkan negara yang iklimnya lebih kering.
Kalau sistem pengendalian air tidak dirancang dengan baik, ruang bawah tanah bisa mudah tergenang. Karena itu, pembangunan basement membutuhkan perlindungan tambahan yang tentu saja menambah biaya.
Bangun ke Atas Lebih Praktis
Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, menambah lantai rumah dianggap sebagai solusi yang lebih sederhana dan hemat biaya. Proses pembangunannya juga lebih mudah sehingga risiko teknisnya lebih kecil.
Nggak heran kalau rumah dua hingga empat lantai jauh lebih sering ditemui dibandingkan rumah yang memiliki basement.
Lebih Cocok untuk Gedung Besar
Basement sebenarnya tetap dibutuhkan, tetapi lebih cocok diterapkan pada gedung bertingkat tinggi atau kawasan dengan harga tanah yang sangat mahal. Ruang bawah tanah biasanya dimanfaatkan sebagai area parkir, ruang utilitas, atau fasilitas pendukung tanpa mengurangi luas bangunan di permukaan.
Sementara untuk rumah tapak biasa, manfaat basement sering kali belum sebanding dengan biaya pembangunan dan perawatannya. Itulah sebabnya kebanyakan orang di Indonesia lebih memilih memperluas rumah secara vertikal daripada membangun ruang di bawah tanah.
Disadur dari kompas.com
0 Comments