IKN makin nunjukin keseriusannya buat jadi kota hijau dan berkelanjutan. Dari 2022 sampai September 2025, ada 14 gedung pemerintah di IKN yang udah resmi dapet sertifikat Bangunan Gedung Hijau (BGH).
Langkah ini bagian dari usaha pemerintah buat nge-rem emisi karbon dari sektor konstruksi, yang emang jadi salah satu penyumbang gede gas rumah kaca. Kata Fajar Santoso Hutahaean, Kepala Balai Teknik Sains Bangunan Kementerian PU, sektor bangunan dan konstruksi tuh ngabisin 30% energi nasional dan nyumbang sepertiga emisi karbon. Kalau dibiarkan, emisinya bisa tembus 1,5 miliar ton CO2 pas 2030.
Makanya, pemerintah udah bikin aturan ketat. Ada Permen PUPR Nomor 21 Tahun 2021 soal standar bangunan hijau dan Permen PUPR Nomor 10 Tahun 2023 soal bangunan cerdas. Intinya, semua proyek di IKN diarahkan biar rendah karbon.
Tapi bukan cuma pemerintah yang gerak. Martin Setiawan, Presiden Direktur Schneider Electric Indonesia, bilang kalau transformasi ke bangunan hijau butuh kolaborasi antara pemerintah, industri, sama masyarakat. Teknologi digital juga punya peran gede.
Menurut dia, teknologi bisa nekan emisi karbon sampai 70%. Caranya? Dengan strategi dekarbonisasi, monitoring energi lewat sistem digital, plus retrofit alias upgrade sistem gedung biar makin hemat energi.
Strategi ini penting banget, apalagi buat daerah kayak Bali. Contohnya, hotel bintang lima di Bali bisa ngabisin listrik sampai 183 kWh per kamar per hari. Itu jauh lebih tinggi dibanding hotel di Jakarta. Jadi kalau konsep bangunan hijau ini bener-bener jalan, dampaknya bakal kerasa banget buat sektor pariwisata dan industri.
Dengan makin banyak gedung di IKN yang kantongi sertifikat hijau, pemerintah pengen kasih contoh nyata buat daerah lain. Harapannya, semua bisa ikut dorong target Net Zero Emission 2060.
IKN jadi role model, daerah lain tinggal ngikutin jejaknya.
Disadur dari kompas.com
0 Comments