Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) lagi ngegas nyiapin sistem baru buat Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan. Sekjen Kementerian PKP, Didyk Choiroel, bilang sistem ini ditargetin beres akhir September 2025.

“Sosialisasi, peraturan sudah, sistem ini sedang disesuaikan, iya sistemnya sedang disiapkan. Moga-moga akhir bulan ini (sudah selesai),” terang Didyk pasca Sosialisasi KUR Perumahan KADIN di Jakarta, Senin (8/9/2025).

Nah, KUR Perumahan ini bakal nyasar ke UMKM kayak pengembang, penyedia jasa konstruksi, sampe pengusaha bahan bangunan. Mereka bisa ngajuin lewat skema Kredit Program Perumahan (KPP) Sisi Penyediaan Rumah. Dana dari KPP ini bisa dipake buat beli lahan, bahan bangunan, atau kebutuhan lain yang nyangkut sama penyediaan rumah.

Biar bisa dapet KUR Perumahan, pelaku usaha wajib masuk kategori UMKM. Aturannya gini: usaha mikro punya modal maksimal Rp1 miliar, usaha kecil Rp1-5 miliar, dan usaha menengah Rp5-10 miliar. Kalau diliat dari omset tahunan, usaha mikro maksimal Rp2 miliar, kecil Rp2-15 miliar, dan menengah Rp15-50 miliar.

Ada tiga kelompok besar yang bisa manfaatin program ini:

  1. Pengembang Perumahan
    Harus masuk kategori UMKM, punya usaha di bidang pembangunan, renovasi, atau jual-beli rumah. Wajib juga terdaftar di Sistem Informasi Kredit Program.
  2. Penyedia Jasa Konstruksi
    Individu atau badan usaha yang nyediain layanan konsultasi atau kerjaan konstruksi. Bisa berupa pembangunan, pengoperasian, pemeliharaan, sampai renovasi atau bongkar-bangun ulang rumah/perumahan. Sama kayak pengembang, mereka juga harus daftar di sistem kredit program.
  3. Pengusaha Bahan Bangunan
    Usahanya harus dagang material bangunan buat pembangunan atau perbaikan rumah/perumahan. Termasuk bahan buat bikin jalan, jembatan, atau struktur lain yang masih ada hubungannya sama perumahan.

Syarat buat ngajuin KUR Perumahan juga lumayan detail. Pemohon harus WNI atau badan hukum Indonesia, punya usaha produktif minimal jalan 6 bulan, punya NPWP sama NIB, dan lolos berbagai checking (trade, community, bank). Terus, nggak boleh lagi nerima KUR atau kredit program pemerintah lain di waktu yang sama. Agunan utamanya adalah objek rumah yang dibiayain KPP, tapi bisa juga diminta agunan tambahan sesuai ketentuan bank penyalur.

Program ini intinya jadi cara baru buat ngeboost ketahanan sektor perumahan sekaligus bikin akses modal lebih gampang buat UMKM yang nyemplung di dunia properti.

Disadur dari kompas.com


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× #WAAjaDulu