Punya rumah sendiri masih jadi impian banyak anak muda. Tapi kenyataannya, makin banyak yang memilih ngontrak dulu daripada langsung beli rumah. Data Rumah123 menunjukkan, pada April–Juni 2026 sekitar 58,6 persen pencarian properti mengarah ke rumah sewa, sedangkan pencarian rumah untuk dibeli hanya 41,4 persen. Selisih ini menjadi yang terbesar dalam lima kuartal terakhir.

Trennya juga terus bergerak ke arah yang sama. Minat mencari rumah sewa naik dari tahun ke tahun, sementara minat membeli justru terus menurun. Artinya, semakin banyak orang yang merasa menyewa lebih realistis dibanding memaksakan diri membeli rumah.

Beli Rumah Makin Sulit

Penurunan minat beli bukan berarti orang sudah tidak ingin punya rumah. Justru sebaliknya, banyak yang masih ingin membeli, tetapi terbentur kemampuan finansial.

Hal itu terlihat dari fitur Simulasi KPR Rumah123 yang turun 11,6 persen dibanding kuartal sebelumnya. Dari mereka yang masih menghitung cicilan, lebih dari 65 persen mencari rumah dengan harga di bawah Rp1 miliar. Bahkan, kata kunci yang paling sering dicari adalah “subsidi”, mengalahkan kata seperti “cluster” atau “mewah”.

Pilihan tenor KPR juga menunjukkan kondisi serupa. Mayoritas calon pembeli memilih cicilan 16 hingga 20 tahun agar beban bulanannya lebih ringan. Gambaran ini menunjukkan bahwa pembeli saat ini sangat sensitif terhadap harga dan sangat bergantung pada skema pembiayaan yang terjangkau.

Kenapa Anak Muda Lebih Memilih Ngontrak?

Sebagian besar pengguna Rumah123 berasal dari kelompok usia 18–34 tahun. Di usia ini, banyak yang masih membangun karier, mengumpulkan uang muka, atau masih berpindah-pindah tempat kerja. Dalam kondisi seperti itu, menyewa rumah dianggap lebih fleksibel dibanding langsung mengambil cicilan rumah belasan hingga puluhan tahun.

Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, menilai fenomena ini bukan berarti impian memiliki rumah hilang. Menurutnya, banyak anak muda memilih menyewa sebagai langkah sementara sambil memperbaiki kondisi keuangan sebelum membeli rumah.

Bukan Sekadar Gaya Hidup

Meski disebut sebagai fase transisi, data menunjukkan ada persoalan yang lebih besar. Harga rumah dan biaya KPR diduga sudah semakin jauh dari kemampuan beli sebagian besar generasi muda. Akibatnya, menyewa bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, tetapi menjadi opsi yang paling masuk akal.

Fenomena ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah dan pelaku industri properti. Tanpa tambahan pasokan rumah yang lebih terjangkau, skema KPR yang lebih ringan, serta dukungan pembiayaan yang sesuai dengan penghasilan anak muda, impian memiliki rumah sendiri bisa semakin sulit diwujudkan.

Disadur dari kompas.com


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× #WAAjaDulu