Kabar menarik datang dari Lombok Barat. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat lagi nyiapin kerja sama dengan investor luar negeri buat ngatasin masalah sampah dengan cara modern. Bukan cuma dibuang atau dibakar, nanti sampah di Lombok Barat bakal diolah jadi bahan bangunan seperti pasir dan kerikil yang bisa dicampur beton.
Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Barat, M. Busyairi, alat canggih dari Jerman ini bisa ngolah sampai 100 ton sampah per hari.
“Ada investor yang tertarik bekerja sama dengan Pemkab Lombok Barat untuk mengolah sampah menjadi barang jadi. Semua jenis sampah bisa diolah dengan kapasitas mencapai 100 ton per hari,” terang Busyairi, Selasa (7/10/2025).
Kalau semua lancar, alat ini ditargetin bisa mulai beroperasi tahun 2026. Rencananya, alat bakal dipasang di lahan milik Pemkab di Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, di area seluas dua hektare yang sebelumnya udah disiapin buat tempat pengolahan sampah terpadu (TPST). Jadi nggak perlu bangun fasilitas baru, tinggal pasang alatnya aja.
Busyairi bilang, Bupati Lombok Barat udah setuju penuh sama proyek ini karena dianggap bisa jadi solusi nyata buat masalah sampah yang makin parah. Selain itu, teknologi pengolahan dari Jerman ini bakal bantu Pemkab ngurangin volume sampah dan sekalian hasilin produk yang bernilai ekonomi tinggi.
Tapi, sementara proyeknya belum jalan, masalah sampah di lapangan masih bikin pusing. Di Jalan Desa Babussalam, Kecamatan Gerung, tumpukan sampah makin menggunung, padahal cuma sekitar 100 meter dari Kantor Bupati. Udah ada tiga papan larangan buang sampah, tapi tetap aja numpuk dan nyebar bau nggak sedap.
Busyairi jelasin, masalah itu sebenarnya tanggung jawab Pemerintah Desa (Pemdes) Babussalam, sesuai Perda Lombok Barat Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pengelolaan Sampah. Dalam aturan itu, pemdes harusnya punya tim pengelola buat ngangkut sampah dari rumah warga ke TPS, baru nanti DLH yang ngangkut dari TPS ke TPA. Tapi di Babussalam, sistem ini nggak jalan karena tim pengelolanya belum dibentuk.
“Kenapa sampah ini banyak berserakan di jalan itu sekarang, pasti ada yang tersumbat pada perda itu. Artinya apa, pengangkutan dari rumah tangga ke TPS terdekat itu tidak berjalan,” ujar Busyairi.
Kepala Desa Babussalam, Ramli Ahmad, juga ngaku kalau pengelolaan sampah di desanya belum maksimal. Ia bilang tumpukan sampah bukan cuma dari warga lokal, tapi juga dari luar desa.
“Sangat sulit kami atasi yang di sana itu. Awalnya kan dahulu tidak ada itu. Kenapa timbul sampah itu, ya bukan dari warga sini saja, dari luar juga. Saya sempat saksikan sendiri,” ungkap Ramli.
Ramli janji bakal segera bentuk lembaga pengelola sampah dan minta bantuan DLH buat sosialisasi aturan biar masyarakat lebih sadar pentingnya jaga kebersihan. Harapannya, begitu alat dari Jerman datang, masalah sampah di Lombok Barat bukan cuma berkurang — tapi bisa jadi sumber manfaat baru.
Disadur dari detik.com
0 Comments