Mimpi punya rumah sekarang arahnya udah agak berbeda, ngikutin perkembangan teknologi, gaya hidup baru, sampe tuntutan hidup yang makin sadar lingkungan. Semua itu bikin cara anak muda lihat kenyamanan jadi berubah total.
Pada event BTN Housingpreneur di ITS Surabaya, 14 November 2025 kemarin, Associate Professor Desain Produk Industri ITS, Agus Windharto, ngasih gambaran soal kebutuhan baru Gen Z: rumah yang pintar, sehat, efisien, tapi tetep ramah di kantong.
Terus muncul pertanyaan penting: seberapa minat sih Gen Z sama properti, dan gimana cara mereka bisa lolos KPR?
Gen Z dan Pencarian Hunian Versi Mereka
Dari kacamata akademisi, masalah Gen Z udah mulai sebelum mereka cari rumah. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang, Novita Ratna Satiti, bilang kalau pendapatan yang stagnan plus banyaknya pekerjaan sektor informal jadi batu sandungan besar.
Daya beli makin kecil, sementara akses ke fasilitas penting—kayak jaminan hari tua atau pendidikan—juga nggak selalu aman.
Prof. Agus Windharto juga bilang kebutuhan hunian Gen Z beda antara kota dan desa. Di kota, mereka pengen rumah kecil tapi multifungsi, ruang disiasati vertikal-horizontal biar tetap lega. Di desa, harga jadi pertimbangan utama. Tapi semua sepakat: rumah harus punya proporsi ruang yang sehat—cahaya cukup, ventilasi oke, sanitasi aman.
Gambaran ini nyambung sama pengalaman Adhiimsyah Luthfi, Founder PT Sembilan Bintang Lestari. Walaupun harga Rp166 juta itu bikin kreativitas kepepet, prinsipnya tetap: rumah harus layak, fungsional, dan enak dilihat.
Tantangan KPR: Titik-Titik Rawan yang Sering Ke-skip
Begitu masuk ke tahap pembelian, tantangan berikutnya muncul: proses KPR. Pengamat perbankan sekaligus praktisi pembayaran, Arianto Muditomo, bilang akad KPR itu bukan sekadar tanda tangan. Setiap detail dokumen bisa jadi penentu, bahkan ngundang masalah hukum kalau nggak dicek.
Legalitas kayak SHM/SHGB, IMB/PBG, site plan, sampai kecocokan spek bangunan harus dicek bener. Sertifikat induk yang belum dipecah itu salah satu jebakan paling umum—sering ke-skip karena calon pembeli fokus sama jadwal akad.
Bank juga cuma bisa aman kalau sertifikat pecahannya udah tersedia. Kalau legalitas belum beres, akad bisa ditunda atau batal, meski sebelumnya udah dinilai layak. Masalah mendadak kayak perubahan data SLIK, turunnya penghasilan, atau isu di pihak developer bisa muncul di detik terakhir.
Antara Tren dan Kewaspadaan
Di saat Gen Z lagi ngebayangin rumah cerdas dan fleksibel, pasar justru makin ketat soal legalitas. Di sinilah kewaspadaan jadi bagian penting dari proses—bukan sekadar urusan teknis, tapi soal rasa aman jangka panjang.
Karena itu, minta salinan dokumen legal, jangan transfer besar sebelum semuanya jelas, dan cek reputasi developer jadi langkah simpel yang efeknya gede.
BTN Housingpreneur 2025 nunjukkin kalau inovasi dan kehati-hatian itu bukan dua hal yang bertolak belakang. Dua-duanya justru harus jalan bareng buat ngebentuk hunian masa depan.
Karena pada akhirnya, rumah bukan cuma bangunan, tapi tempat di mana rasa aman tumbuh pelan-pelan—dan harus dijaga jangan sampai retak, sekecil apa pun.
Disadur dari detik.com
0 Comments