Kabar soal suku bunga kembali bikin calon pembeli rumah harus lebih waspada. PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF memproyeksikan BI Rate masih punya peluang naik hingga 6,75% pada akhir 2026. Kalau skenario ini benar-benar terjadi, biaya dana atau cost of fund ikut terdorong naik dan dampaknya bisa terasa sampai ke bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Chief Economist SMF Martin D. Siyaranamual mengatakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih menjadi salah satu tantangan ekonomi Indonesia. Di sisi lain, kebutuhan pembiayaan pemerintah juga cukup besar. Kondisi tersebut membuat kebijakan moneter berpotensi tetap ketat.

Menurut proyeksi SMF, skenario moderat BI Rate berada di sekitar 6,25%. Namun, peluang kenaikan hingga 6,75% tetap terbuka jika tekanan terhadap rupiah semakin kuat.

Kalau BI Rate Naik, KPR Bisa Makin Mahal

Kenaikan suku bunga acuan biasanya ikut memengaruhi biaya pendanaan lembaga keuangan. Ketika biaya dana naik, harga pembiayaan yang diberikan kepada masyarakat juga berpotensi ikut terkerek.

Artinya, bunga KPR bisa menjadi lebih mahal. Dampaknya, cicilan bulanan calon pembeli rumah berpotensi meningkat dan sebagian masyarakat mungkin memilih menunda pembelian.

Permintaan rumah dan KPR pun bisa ikut tertekan. Bagi industri pembiayaan perumahan, kondisi ini jelas menjadi tantangan karena harus mencari cara agar bisnis tetap berjalan di tengah biaya pendanaan yang makin tinggi.

Bukan Cuma BI Rate yang Jadi Masalah

Tekanan terhadap biaya dana ternyata tidak hanya berasal dari suku bunga acuan. Kebutuhan pemerintah untuk mencari pendanaan juga ikut berpengaruh.

Ketika pemerintah membutuhkan dana lebih besar melalui penerbitan surat utang, imbal hasil atau yield yang ditawarkan berpotensi naik. Kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) kemudian bisa menjadi referensi bagi lembaga pembiayaan lainnya.

SMF sendiri rutin mencari pendanaan melalui pasar obligasi. Karena penerbitan obligasi SMF mengacu pada yield SBN, ketika yield naik, biaya pendanaan SMF otomatis ikut meningkat.

BI Masih Tahan Suku Bunga di 5,75%

Meski ada proyeksi kenaikan ke depan, Bank Indonesia pada RDG 21-22 Juli 2026 masih mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Suku bunga Deposit Facility ditetapkan 4,75%, sedangkan Lending Facility berada di 6,50%.

BI juga memperluas sejumlah insentif untuk mendorong masuknya modal asing ke pasar keuangan Indonesia. Langkah tersebut diharapkan membantu menjaga stabilitas rupiah sekaligus memperkuat likuiditas pasar.

Industri Properti Harus Adaptif

Di tengah potensi kenaikan biaya pembiayaan, sektor perumahan sebenarnya masih punya ruang untuk tumbuh. Kuncinya adalah kemampuan beradaptasi.

Bagi calon pembeli rumah, kondisi ini menjadi pengingat untuk menghitung kemampuan cicilan dengan lebih matang. Sementara bagi pelaku industri, strategi pembiayaan dan bisnis perlu disesuaikan agar tetap bertahan menghadapi perubahan suku bunga dan kondisi ekonomi.

Pada akhirnya, apakah bunga KPR benar-benar naik signifikan akan sangat bergantung pada perkembangan rupiah, inflasi, kebijakan BI, dan kondisi ekonomi ke depan.

Disadur dari cnbcindonesia.com


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× #WAAjaDulu