Di tengah ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, pasar rumah tapak di Jakarta dan sekitarnya ternyata masih cukup stabil. Riset JLL mencatat permintaan sekitar 3.900 unit pada semester I 2026, sementara pengembang meluncurkan sekitar 3.500 unit. Tingkat penjualan kumulatif juga mencapai 90 persen.
Menurut JLL Indonesia, kondisi ini menunjukkan kebutuhan rumah tetap kuat. Meski ekonomi lagi nggak gampang, orang tetap butuh tempat tinggal. Tapi yang menarik, selera pembeli mulai bergeser.
Rumah 4 Kamar Mulai Dilirik
Kalau sebelumnya rumah tiga kamar jadi favorit dengan pangsa sekitar 39 persen, kini rumah empat kamar mulai mencuri perhatian. Pada kuartal II 2026, penjualan tipe ini cukup kuat, meski ukuran bangunannya nggak ikut melebar.
JLL menyebut fenomena tersebut lebih cocok dianggap sebagai eksperimen produk daripada tren besar. Pengembang mencoba memasukkan satu kamar tambahan ke rumah yang ukurannya tetap compact.
Luas rumah empat kamar ini bahkan bisa cuma sekitar 35–100 meter persegi. Buat keluarga muda, tambahan satu kamar ternyata cukup berguna. Bisa dipakai untuk anak, orang tua yang ikut tinggal, atau asisten rumah tangga.
Jadi, rumah kecil bukan berarti fungsinya minim. Yang penting, ruangnya bisa dimaksimalkan sesuai kebutuhan keluarga.
Bukan Cuma Rumah, Tapi Juga Kawasannya
Perubahan selera pembeli juga nggak lepas dari makin berkembangnya konsep township atau kawasan hunian terpadu.
Pembeli muda sekarang nggak cuma melihat ukuran rumah. Mereka juga mempertimbangkan apa saja yang tersedia di sekitar rumah. Sekolah, rumah sakit, pusat belanja, area komersial, fasilitas publik, sampai akses transportasi ikut jadi pertimbangan.
Makanya, rumah yang ukurannya terbatas tetap bisa terasa nyaman kalau lingkungan sekitarnya punya fasilitas lengkap. Simpelnya, ruang yang kurang di dalam rumah bisa “diganti” dengan fasilitas yang tersedia di luar rumah.
Harga Tetap Jadi Pertimbangan Utama
Dari sisi harga, rumah Rp600 juta–Rp1,3 miliar masih menjadi segmen paling banyak diminati dengan porsi sekitar 32 persen. Sementara rumah di bawah Rp600 juta dan di atas Rp3 miliar sama-sama mencatat pertumbuhan 19 persen.
Menariknya, rumah dengan harga di bawah Rp2 miliar masih menguasai hampir tiga perempat penjualan. Artinya, kemampuan finansial tetap jadi faktor utama sebelum pembeli memikirkan desain atau jumlah kamar.
Buat pengembang, kondisi ini membuka peluang menghadirkan rumah yang tetap terjangkau, tapi lebih sesuai dengan kebutuhan keluarga masa kini. Rumah empat kamar yang compact pun bisa menjadi salah satu jawabannya.
Disadur dari antaranews.com & detik.com
0 Comments