Sebuah rumah di Jalan Lembang Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat, menyimpan sejarah kelam Indonesia. Bangunan yang kini dikenal sebagai Sasmitaloka Ahmad Yani itu menjadi saksi gugurnya Jenderal Ahmad Yani dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada 1965.

Rumah tersebut sudah berdiri sejak sekitar 1930-1940-an, ketika kawasan Menteng dan Gondangdia dikembangkan pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Dulu, bangunan ini digunakan sebagai rumah tinggal pejabat maskapai Belanda atau Eropa.

Tempat Tinggal Ahmad Yani dan Keluarga

Sekitar 1957, Ahmad Yani yang saat itu masih berpangkat Letnan Jenderal menempati rumah tersebut sebagai rumah dinas. Ia tinggal bersama istrinya, Yayu Rulia Sutowiryo, dan delapan anak mereka.

Pada 1962, Ahmad Yani diangkat menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat (MenPangad) menggantikan Jenderal A.H. Nasution. Ia sebenarnya mendapat rumah dinas baru di Jalan Taman Suropati. Namun, Yani disebut lebih betah tinggal di Jalan Lembang dan lebih sering menghabiskan waktunya di sana.

Sampai akhirnya, rumah ini menjadi lokasi terakhir dalam perjalanan hidupnya.

Ditembak di Depan Pintu

Pada dini hari 1 Oktober 1965, pasukan Cakrabirawa datang ke rumah Ahmad Yani. Mereka menyampaikan pesan bahwa sang jenderal diminta menghadap Presiden Soekarno.

Ahmad Yani kemudian meminta waktu untuk mencuci muka dan mengganti pakaian. Namun, permintaan itu ditolak salah satu prajurit. Situasi memanas hingga terjadi benturan.

Menurut pengelola Sasmitaloka Ahmad Yani, Agus, Ahmad Yani kemudian masuk ke rumah dan menutup pintu. Dari jarak sekitar 1,5 meter, ia ditembak oleh pasukan Cakrabirawa.

Ahmad Yani jatuh dalam posisi tengkurap. Setelah itu, tubuhnya diseret keluar dan dibawa menuju Lubang Buaya. Tujuh peluru disebut mengenai tubuhnya, sementara lima peluru lainnya menghantam lukisan dan lemari.

Bekas tembakan pada lukisan dan lemari masih bisa dilihat sampai sekarang. Sementara kaca pintu di lokasi kejadian sudah diganti dengan replika karena kaca aslinya hancur akibat rentetan tembakan.

Rumah Lama yang Jadi Museum

Setelah Ahmad Yani gugur, rumah tersebut kemudian dihibahkan kepada negara dan dijadikan museum sejarah. Museum ini resmi dibuka pada 1 Oktober 1966 oleh MenPangad Mayjen Soeharto.

Di dalamnya tersimpan berbagai barang pribadi Ahmad Yani dan keluarganya, foto rekonstruksi peristiwa G30S, hingga senapan otomatis Thompson beserta sisa peluru yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Hampir 100 Tahun, Bentuknya Masih Sama

Meski sudah berusia hampir satu abad, bangunan seluas sekitar 600 meter persegi ini disebut belum pernah direnovasi besar-besaran. Struktur utamanya masih dipertahankan seperti aslinya.

Perawatannya pun relatif seperti rumah biasa, mulai dari disapu hingga dipel. Ada juga fumigasi setiap tiga bulan untuk mencegah rayap dan jamur.

Pengunjung yang masuk pun wajib melepas alas kaki. Jadi, bukan cuma cerita sejarahnya yang dijaga, tetapi juga bangunan dan berbagai jejak peristiwa yang masih tersisa di dalamnya.

Disadur dari detik.com


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *