Di tengah ambisi gede pemerintah buat nyediain jutaan rumah, ada satu masalah utama yang sering nggak disorot: ribetnya akses ke pembiayaan perumahan. Padahal ini nih yang bikin banyak orang akhirnya cuma bisa mimpi punya rumah sendiri.

Faktanya, menurut BPS, 60% pekerja di Indonesia itu ada di sektor informal. Artinya, mereka kerja freelance, buka usaha kecil-kecilan, atau hidup dari komisi. Gaji nggak tetap, kontrak kerja juga nggak jelas. Buat bank atau lembaga keuangan, ini dianggap berisiko. Jadi meskipun mereka sebenarnya mampu bayar, tetep aja susah banget buat lolos dapet KPR. Beda jauh nasibnya sama PNS, pegawai BUMN, atau karyawan kantoran.

Masalah makin ruwet karena banyak anak muda sekarang gampang banget tergoda pinjaman online. Data 2024 dari PerfinDoku nunjukin ada 14 juta pengguna pinjol, dan hampir separuhnya itu umur 20–30 tahun. Banyak dari mereka ambil utang tanpa paham risiko, ujung-ujungnya keuangan berantakan dan riwayat kreditnya rusak.

Skema Subsidi Sekarang Cuma Obat Sakit Kepala, Bukan Obat Penyakitnya

Wacana soal rumah subsidi makin kecil, atau hunian mungil ala pengembang swasta, sebenernya cuma efek dari mahalnya biaya bangun rumah dan harga tanah. Marine Novita, CEO MilikiRumah, bilang kalau skema subsidi sekarang kayak FLPP itu fungsinya cuma bantu bank supaya bisa kasih pinjaman dengan bunga lebih ringan. Pemerintah nggak bangun rumah langsung, mereka cuma bikin patokan harga maksimal yang beda-beda di tiap daerah.

Contohnya, di 2023 pemerintah keluarin Rp 26,3 triliun buat bangun 229 ribu unit lewat FLPP. Tahun 2025 targetnya naik jadi 350 ribu unit. Tapi pertanyaannya: ini semua beneran nyampe ke yang butuh atau cuma jadi angka doang?

Kalau kata Marine, mimpi bikin 3 juta rumah nggak bakal kejadian kalau industri properti dan pemerintah nggak fokus ke masalah utamanya: akses ke pembiayaan.

Ada Solusi? Ada, Tapi Belum Banyak yang Tau

Beberapa pelaku properti mulai bikin terobosan, salah satunya lewat program Pra-KPR. Ini buat orang-orang yang belum bisa dapet KPR dari bank, entah karena penghasilan nggak tetap atau rekam jejak kreditnya belum mulus.

Caranya, lo bisa mulai tinggal di rumah itu sebagai penyewa, sambil ikut program yang ngebantu lo buat bisa beli rumah itu nanti. Jadi lo nyicil lewat sewa, sambil ngebuktiin ke bank kalau lo bisa bayar rutin. Lama-lama, pinjaman lo makin kecil karena udah dibayar sebagian lewat sewa.

Skemanya disebut Rent-to-Own, udah lumayan umum di luar negeri tapi belum terlalu dikenal di Indonesia. Biasanya ini kerja sama sama pengembang, bisa buat rumah yang udah jadi atau yang masih dalam tahap pembangunan. Rumahnya bisa lo sewa dulu, terus nanti bisa lo milikin.

Intinya, kalau kita bener-bener mau bantu orang punya rumah, fokusnya harus ke cara biayanya dulu, bukan cuma ukuran rumahnya. Dengan pendekatan yang nyentuh akar masalah, dunia properti bisa lebih inklusif dan bikin sistem perumahan yang bener-bener tahan lama.

Disadur dari kompas.com


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× #WAAjaDulu