Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid lagi-lagi ngasih peringatan keras soal larangan alih fungsi sawah yang udah ditetapkan jadi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

Dia bilang ini langsung ke para kepala daerah pas acara Orientasi Kepemimpinan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah di IPDN, Sumedang, Rabu (25/6/2025).

“Yang boleh dikeluarkan izinnya hanya untuk lahan non-LP2B. Sawah LP2B itu mutlak tidak boleh dialihfungsikan. Ini penting saya tekankan kepada para bupati dan wali kota karena banyak sawah hilang akibat rekomendasi yang tidak tepat,” kata Nusron.

Dia bilang, di tengah kebutuhan pembangunan yang makin tinggi—mulai dari target swasembada pangan, hilirisasi energi, sampai penyediaan rumah murah—pengendalian lahan jadi kunci utama. Tapi jangan sampai semua kebutuhan itu justru ngorbanin lahan sawah produktif.

Rumah Murah Nggak Boleh Korbanin Sawah

Nusron menegaskan, emang bener rumah murah butuh lahan yang murah juga. Tapi pilihan itu jangan jatuhnya jadi ngambil sawah terus. Kalau sawah terus dijadiin perumahan, lama-lama nggak ada lahan buat tanam pangan. Swasembada pangan bisa gagal total. Makanya harus ada aturan yang ketat.

LP2B itu sendiri sebenernya udah jadi sistem perlindungan sawah biar tetap difungsikan buat pertanian. Kalau pun bener-bener terpaksa harus dialihfungsiin, maka harus ada lahan pengganti yang kualitas dan produktivitasnya seimbang. Jadi bukan asal ganti aja.

Pemda Pegang Kendali

Nusron juga ngingetin, yang punya wewenang nentuin mana sawah yang masuk kategori LP2B itu pemerintah daerah, bukan pusat. Makanya, dia minta kepala daerah lebih serius soal ini. Dalam RPJMN, pemerintah nargetin 87 persen dari total Lahan Baku Sawah (LBS) harus masuk LP2B. Jadi ini bukan main-main.

Intinya, Nusron lagi ngajak semua pihak, terutama para pemimpin daerah, buat mikir panjang soal urusan lahan. Jangan gampang kasih izin perumahan kalau ujung-ujungnya makan lahan pertanian. Soalnya, begitu sawah ilang, kita juga bakal kehilangan masa depan pangan bangsa sendiri.

Disadur dari kompas.com


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× #WAAjaDulu