Pemerintah lagi menyiapkan proyek besar buat mengurangi backlog perumahan lewat pembangunan kota satelit di berbagai daerah. Program yang digagas Presiden Prabowo Subianto ini diharapkan bisa menambah pasokan rumah sekaligus mendorong pemerataan pembangunan di luar kota-kota besar.
Menteri ATR/Kepala BPN Nusron Wahid menyebut sedikitnya ada 12 wilayah yang masuk daftar pengembangan, mulai dari Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Bogor, Bandung Barat, Batang, Mojokerto, Pasuruan, Kalimantan Barat, hingga Sulawesi Selatan. Sementara Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Barat masih dalam tahap verifikasi.
Lahan Besar, Ambisi Besar
Setiap kota satelit diperkirakan membutuhkan lahan minimal 200 hektare. Sebagian besar lahannya berasal dari aset negara dan bekas Hak Guna Bangunan (HGB) yang masa berlakunya sudah habis. Pemerintah juga telah mengidentifikasi potensi lahan lebih dari 129 ribu hektare untuk mendukung program ini.
Konsep pengembangannya dibagi menjadi dua. Di kawasan perkotaan, fokusnya adalah hunian vertikal seperti rumah susun dan apartemen agar lahan bisa dimanfaatkan lebih efisien. Sementara di wilayah dengan lahan yang lebih luas, akan dibangun kota satelit yang terintegrasi dengan berbagai fasilitas pendukung.
Peluang yang Menjanjikan
Kalau berjalan sesuai rencana, program ini punya banyak manfaat. Yang paling utama tentu membantu mengurangi backlog perumahan yang hingga kini masih mencapai jutaan unit. Kehadiran kota satelit diharapkan membuat masyarakat punya lebih banyak pilihan rumah dengan harga yang lebih terjangkau.
Selain itu, pembangunan juga berpotensi menciptakan pusat-pusat ekonomi baru. Selama ini investasi dan lapangan kerja masih banyak terkonsentrasi di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Dengan hadirnya kota satelit, pertumbuhan ekonomi di daerah lain diharapkan ikut terdorong.
Efeknya juga bisa dirasakan sektor properti dan infrastruktur. Jalan, transportasi umum, sekolah, rumah sakit, hingga kawasan komersial akan ikut berkembang sehingga roda ekonomi daerah bergerak lebih cepat.
Tantangan yang Harus Dijawab
Meski menjanjikan, proyek ini juga punya tantangan besar. Risiko pertama adalah munculnya kota baru yang sepi penghuni jika tidak diiringi penciptaan lapangan kerja dan akses transportasi yang memadai.
Tantangan berikutnya adalah kebutuhan anggaran yang sangat besar. Kota satelit bukan cuma soal membangun rumah, tetapi juga menyediakan air bersih, listrik, jaringan internet, fasilitas kesehatan, pendidikan, hingga transportasi publik yang layak.
Di sisi lain, pengelolaan tata ruang dan lingkungan juga harus menjadi perhatian. Pembangunan dalam skala besar wajib direncanakan secara matang agar tidak memicu kerusakan lingkungan maupun konflik pemanfaatan lahan.
Pada akhirnya, kota satelit bisa menjadi solusi nyata bagi persoalan perumahan di Indonesia. Namun, keberhasilannya tidak hanya bergantung pada jumlah rumah yang dibangun, melainkan juga pada kemampuan menghadirkan kawasan yang hidup, produktif, dan nyaman untuk dihuni dalam jangka panjang.
Disadur dari https://www.youtube.com/watch?v=DCe3qPvVDc0
0 Comments