Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate lagi jadi perhatian besar di pasar properti. Tujuan utamanya memang buat menjaga nilai tukar rupiah dan menahan tekanan inflasi, tapi efeknya langsung terasa ke cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Buat banyak orang yang lagi ngincer rumah pertama, kabar ini bikin mikir dua kali sebelum ambil cicilan jangka panjang.
Cicilan Bisa Makin Berat
CEO Leeds Property, Hendra Hartono, menilai suku bunga tinggi bukan cuma soal angka di atas kertas. Dampak paling besar justru ada di sisi psikologis konsumen.
Menurutnya, ketika bunga KPR terus naik, banyak calon pembeli mulai bertanya: nanti cicilannya masih sanggup dibayar nggak?
Kekhawatiran itu nggak cuma dirasakan calon pembeli. Pihak bank juga ikut berhitung. Kalau bunga dinaikkan terlalu tinggi sementara daya beli masyarakat melemah, risiko gagal bayar juga bisa ikut meningkat.
Akibatnya, pasar properti bisa melambat karena pembeli menunda keputusan membeli rumah.
Kenapa Bunga Rendah Dianggap Lebih Sehat?
Hendra menilai industri properti lebih cocok tumbuh di lingkungan suku bunga yang rendah. Saat bunga murah, masyarakat lebih berani meminjam uang untuk membeli rumah, membangun usaha, atau melakukan investasi.
Efeknya bisa berantai: pembangunan meningkat, transaksi properti bertambah, dan roda ekonomi ikut bergerak lebih cepat.
Sebaliknya, ketika bunga tinggi, biaya pinjaman naik dan kemampuan membeli rumah otomatis menurun, terutama untuk kelas menengah dan menengah bawah.
BI Rate Resmi Naik Jadi 5,75 Persen
Bank Indonesia melalui Rapat Dewan Gubernur pada 18-19 Juni 2026 memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.
Sejalan dengan itu:
- Deposit Facility naik menjadi 4,75 persen
- Lending Facility naik menjadi 6,50 persen
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus menjaga inflasi tetap berada di kisaran target pemerintah, yaitu 2,5 persen ± 1 persen pada 2026-2027.
Dampaknya Buat Pembeli Rumah
Buat masyarakat yang lagi cari rumah, kenaikan suku bunga berarti kemungkinan cicilan bulanan bakal lebih tinggi dibanding sebelumnya.
Semakin besar bunga, semakin besar juga total pembayaran yang harus dikeluarkan selama masa KPR. Karena itu, banyak calon pembeli sekarang jadi lebih hati-hati dalam menentukan harga rumah, tenor cicilan, dan kemampuan bayar jangka panjang.
Intinya, BI Rate naik memang penting buat menjaga stabilitas ekonomi. Tapi di saat yang sama, pasar properti dan para pemburu rumah pertama harus siap menghadapi cicilan yang berpotensi makin berat.
Disadur dari cnbcindonesia.com
0 Comments