Kalau di Indonesia, toilet jongkok masih gampang ditemui, apalagi di rumah-rumah lama, sekolah, atau fasilitas umum. Tapi beda cerita kalau di negara-negara Barat seperti Inggris dan Amerika Serikat. Di sana, toilet duduk sudah jadi standar sejak lama. Ternyata, alasannya bukan cuma soal kenyamanan, tapi juga dipengaruhi sejarah, budaya, sampai perkembangan teknologi.
Awalnya, saat kota-kota di Eropa berkembang pesat pada abad ke-19, desain rumah ikut berubah. Toilet duduk dianggap lebih cocok dipasang di bangunan modern dan lebih nyaman dipakai. Ditambah lagi, teknologi sanitasi serta jaringan perpipaan makin maju. Produksi toilet porselen secara massal membuat toilet duduk semakin mudah diakses dan akhirnya menjadi simbol kemajuan.
Menurut sejarawan arsitektur Barbara Penner dalam bukunya Bathroom, Inggris dan Amerika bahkan punya pengaruh besar dalam menyebarkan konsep kamar mandi modern ke berbagai negara. Pada era 1920-an, penyebaran model kamar mandi ala Anglo-Amerika sampai dijuluki “imperialisme sanitasi”.
Asia Tetap Setia dengan Toilet Jongkok
Meski toilet duduk makin populer, banyak negara Asia tetap mempertahankan toilet jongkok. Alasannya sederhana, karena sudah menjadi kebiasaan turun-temurun dan dianggap lebih sesuai dengan gaya hidup masyarakat.
Perbedaan budaya juga terlihat dari cara orang menggunakan toilet. Di Amerika, duduk lama di toilet sambil baca buku atau majalah dianggap hal biasa. Bahkan ada buku-buku khusus yang memang dibuat untuk dibaca saat di toilet.
Sebaliknya, di banyak negara Asia, toilet hanya dipakai untuk buang air, bukan tempat bersantai. Dalam keluarga Tionghoa misalnya, anak-anak sering diingatkan supaya tidak kelamaan di toilet karena dipercaya bisa memicu wasir.
Faktanya, sekitar dua pertiga penduduk dunia masih menggunakan toilet jongkok. Sejarahnya juga panjang karena sudah dikenal sejak masa Dinasti Han di China, lebih dari 2.000 tahun lalu.
Dianggap Lebih Higienis dan Sehat
Banyak orang menganggap toilet jongkok lebih bersih karena pengguna tidak perlu menyentuh dudukan yang dipakai bergantian. Selain itu, posisi jongkok dipercaya membuat proses buang air lebih lancar sehingga tidak perlu mengejan terlalu keras.
Karena itu, banyak masyarakat di Asia dan Timur Tengah menganggap posisi jongkok lebih alami dibanding duduk.
Soal Cebok, Timur dan Barat Juga Beda
Perbedaan lainnya ada pada cara membersihkan diri. Di sebagian besar negara Barat, orang cukup memakai tisu toilet setelah buang air. Sementara di Asia dan Timur Tengah, membilas dengan air sudah menjadi kebiasaan.
Meski begitu, tidak semua negara Barat hanya mengandalkan tisu. Prancis, Italia, dan Argentina masih banyak menggunakan bidet. Finlandia juga cukup akrab dengan semprotan air genggam.
Sementara Jepang punya cara yang unik. Negeri Sakura memadukan toilet duduk modern dengan semprotan air otomatis dan fitur pengering, sehingga menggabungkan kenyamanan toilet Barat dengan kebiasaan cebok pakai air yang lebih higienis.
Disadur dari kompas.com
0 Comments