September 2026 kelihatannya manis banget buat sektor properti. Kredit tumbuh 16,4 persen secara tahunan, nyentuh Rp1.703,7 triliun. Tapi ada satu angka yang bikin geleng-geleng: KPR dan KPA cuma naik 4,3 persen. Jadi uangnya deras mengalir, cuma bukan ke orang-orang yang pengen punya rumah.
Yang Narik Gerbong Itu Para Pembangun
Pendorong utamanya justru pihak pembangun. Kredit konstruksi meroket 42,3 persen jadi Rp557,2 triliun, lalu kredit real estate naik 15,5 persen ke Rp283,4 triliun. Sementara itu KPR nyaris stagnan, sejalan dengan kredit konsumsi yang cuma tumbuh 4,7 persen. Kredit kendaraan bermotor malah turun 9,7 persen.
Bunga Bukan Tersangka Utamanya
Bank Indonesia menahan BI Rate di 5,75 persen pada rapat 20-21 Oktober 2026. Banyak yang berharap bunga stabil bakal bikin penjualan rumah ramai, tapi Anton Sitorus dari CBRE Indonesia bilang belum tentu. Bunga cuma satu faktor dari sekian banyak.
Bank juga nggak lagi pelit. Survei BI memperkirakan bank mulai melonggarkan standar kredit di triwulan III 2026, termasuk buat KPR dan KPA. Jadi akses pembiayaan relatif longgar, artinya sumbatnya ada di tempat lain.
Dompet Tipis, Pilihan Makin Sempit
Menurut CBRE, biang masalahnya adalah daya beli kelas menengah yang menipis. Duit dipakai dulu buat kebutuhan harian, sementara beli rumah terpaksa antre belakangan.
Dari sisi pasokan juga ribet. Stok rumah buat kelas menengah sedikit, harga tanah sudah tinggi, dan banyak pengembang lebih milih bangun buat kelas atas, baik rumah tapak maupun apartemen. Apartemen harga terjangkau sebenarnya bisa jadi incaran kelas menengah, tapi jumlahnya masih terbatas. Buat calon pembeli di Jabodetabek, kondisi ini relatable banget, dan bunga stabil belum cukup buat menjawab dua masalah itu.
Butuh Pendampingan Step by Step
Kalau kendalanya di anggaran dan pilihan unit, pendampingan yang terarah jadi makin berguna. Regina Realty mulai dari hitung-hitungan dulu: kemampuan cicilan, besaran uang muka, plus biaya tambahan kayak BPHTB dan notaris, semuanya dipetakan sebelum lihat unit satu pun. Jadinya rentang harga realistis jelas dari awal dan waktu nggak kebuang buat unit yang di luar jangkauan.
Habis itu baru cari unit. Pasar sekunder layak dilirik, apalagi BTN sendiri lagi menguatkan strategi di segmen ini buat nopang KPR. Regina Realty menyaring rumah seken maupun apartemen di Jabodetabek sesuai kebutuhan, lokasi, dan batas budget.
Unit yang cocok masih harus lolos cek legalitas, mulai dari status sertifikat, kondisi tanah, sampai kelengkapan izin bangunan. Pengajuan KPR juga dibantu, termasuk mencocokkan profil penghasilan pembeli dengan bank yang standar kreditnya paling pas.
Teliti Itu Kunci
Pasar yang makin selektif menuntut ketelitian ekstra. Dengan pendampingan yang tepat, punya rumah di segmen menengah tetap bisa diraih, meski jalannya nggak lagi sesimpel nunggu bunga turun.
Disadur dari kontan.co.id & detik.com
0 Comments