Bangun rumah itu butuh perencanaan anggaran yang mateng biar biaya nggak jebol di tengah jalan. Tapi kenyataannya, ada beberapa pekerjaan yang sering bikin pengeluaran melebihi perkiraan awal. Kontraktor sekaligus pemilik PT Bogosari, Yulistyo Ramon Adianto, bilang kondisi medan dan perubahan keinginan konsumen jadi faktor yang bisa bikin biaya melonjak signifikan. Perusahaannya sendiri sudah membangun beberapa perumahan di Semarang dan Demak.
Kondisi Tanah Itu Penentu Utama
Hal pertama yang wajib diperhatiin sejak awal adalah kondisi tanah di lokasi. Jenis tanah menentukan model pondasi, jadi bangunan bisa berdiri kokoh dan aman. Menurut Ramon, beda kondisi tanah bisa bikin biaya pondasi antar rumah terpaut jauh. Kalau tanahnya butuh penanganan khusus, metode kerja dan material harus disesuaikan, dan biayanya otomatis naik. Makanya, cek kondisi tanah sebelum mulai bangun itu langkah penting biar estimasi biaya lebih akurat.
Finishing yang Bikin Pusing
Selain pondasi, tahap finishing juga sering jadi biang pembengkakan. Menurut Ramon, finishing biasanya makan waktu lama, apalagi kalau konsumen berubah pikiran di tengah proses. Ganti material, warna, desain, sampai detail tampilan bisa bikin pekerjaan yang sudah direncanakan harus diatur ulang. Imbasnya, kebutuhan material, tenaga kerja, dan waktu ikut nambah. Kalau perubahan dilakukan pas pengerjaan sudah jalan, kontraktor harus ngulang sebagian pekerjaan yang sudah selesai.
Biaya per Meter Makin Naik
Ramon menjelaskan, gara-gara harga material dan upah tenaga kerja naik, biaya bangun rumah sekarang sudah lewat Rp3 juta per meter persegi. Buat rumah spesifikasi menengah sampai mewah, biayanya bahkan di atas Rp4 juta per meter persegi. Biasanya rumah standar yang nggak mewah di angka Rp3,5 juta, sekarang bisa tembus Rp4 juta.
Harga Material dan Upah Naik Terus
Menurut Ramon, tahun ini saja kenaikan harga bahan bangunan mencapai 10 sampai 15 persen. Bahan yang naiknya lumayan tinggi antara lain semen, pipa PVC, besi, dan galvalum. Upah pekerja konstruksi juga naik sekitar 10 sampai 15 persen, dan ini ikut mendorong biaya per meter persegi.
Dilema Buat Pengembang
Buat pengembang, kondisi ini jadi tantangan tersendiri. Menekan biaya dengan ngurangin kualitas bangunan jelas bukan pilihan yang tepat. Makanya, salah satu jalan yang bisa ditempuh adalah menyesuaikan harga jual rumah, meski pasar properti lagi mengalami perlambatan penjualan.
Intinya
Biar biaya nggak bengkak, cek kondisi tanah dari awal dan usahakan nggak gonta-ganti keinginan pas pembangunan lagi jalan. Dengan perencanaan yang mateng, risiko pembengkakan anggaran bisa ditekan.
Disadur dari Kompas.com
0 Comments