Dulu, kalau ngomongin properti paling bergengsi di Jakarta, pasti yang kepikiran kawasan Sudirman, Thamrin, atau Kuningan. Tapi sekarang trennya mulai berubah. Menurut riset CBRE Indonesia kuartal II 2026, kawasan yang berada di sepanjang jalur transportasi massal justru diprediksi bakal jadi primadona baru pasar properti.

Konsep Transit Oriented Development (TOD) kini bukan lagi sekadar membangun stasiun atau jalur kereta. TOD mulai menjadi mesin yang mendongkrak nilai properti sekaligus membentuk pusat-pusat ekonomi baru di Jakarta.

Akses Kini Lebih Penting daripada Lokasi

CBRE menilai ada tiga alasan kenapa kawasan dekat transportasi massal makin diminati.

Pertama, pola pikir masyarakat mulai berubah. Sekarang orang lebih memilih rumah yang punya akses mudah ke MRT, KRL, atau LRT dibanding rumah yang lebih dekat ke pusat kota tapi sulit dijangkau. Bahkan rumah di Bogor bisa terasa lebih menarik kalau akses KRL-nya lebih praktis.

Kedua, Jakarta sudah makin padat sehingga sulit terus berkembang ke arah luar. Pengembangan kota kini lebih diarahkan ke kawasan yang terhubung transportasi massal agar kemacetan, polusi, dan waktu perjalanan bisa ditekan.

Ketiga, pemerintah memberikan berbagai insentif bagi proyek TOD. Pengembang bisa membangun gedung lebih tinggi sehingga jumlah unit bertambah dan proyek menjadi lebih menarik secara bisnis.

Deretan Hot Spot yang Diprediksi Naik Daun

Ada beberapa kawasan yang diperkirakan bakal mengalami lonjakan nilai properti dalam beberapa tahun ke depan.

Yang pertama adalah MRT Fase 2A yang menghubungkan Bundaran HI hingga Kota. Jalur bawah tanah ini ditargetkan selesai pada 2029 dan diyakini akan meningkatkan nilai properti di sepanjang lintasannya.

Lalu ada Dukuh Atas, yang akan berkembang menjadi pusat integrasi enam moda transportasi sekaligus. Kehadiran hub ini diperkirakan membuat kawasan CBD Jakarta semakin hidup dan menarik bagi investor.

Selain itu, Manggarai juga mulai bersiap menjadi kawasan hunian vertikal baru. Sebagai stasiun KRL tersibuk dengan ratusan ribu penumpang setiap hari, potensinya dinilai sangat besar.

Cawang Hub juga terus berkembang berkat koneksi LRT, TransJakarta, jalan tol, hingga akses menuju kereta cepat. Sementara Kota Tua diproyeksikan menjadi kawasan wisata heritage modern setelah terhubung MRT, sedangkan Pasar Baru masih menjalani proses revitalisasi.

Efeknya Bukan Cuma Buat Rumah

Pengaruh TOD ternyata nggak cuma terasa di sektor hunian. Gedung perkantoran di dekat stasiun jadi lebih menarik karena memudahkan karyawan datang ke kantor. Bisnis ritel dan kuliner juga diuntungkan berkat ramainya lalu lintas pejalan kaki.

Di sisi lain, proyek mixed-use yang menggabungkan apartemen, kantor, hotel, pusat belanja, hingga area hiburan dalam satu kawasan juga makin diminati. Konsep tinggal, kerja, belanja, makan, dan bersantai di satu lokasi dianggap lebih sesuai dengan gaya hidup masyarakat perkotaan saat ini.

Ke depannya, nilai properti Jakarta diperkirakan tak lagi ditentukan hanya oleh alamat prestisius. Akses menuju transportasi massal justru bakal menjadi faktor utama yang menentukan apakah sebuah kawasan akan terus berkembang atau tertinggal.

Disadur dari kompas.com


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× #WAAjaDulu