Tya Ariestya, seorang artis yang kerap muncul di layar kaca ternyata punya bisnis kos-kosan yang sudah jalan hampir satu dekade lho. Bahkan unit barunya yang belum resmi dibuka aja udah ada yang ngelirik. Kamarnya belum jadi tapi udah ada yang ngantre.

Dan ternyata Tya bukan satu-satunya. Sebut saja Ria Ricis, Tantri Kotak, Arief Muhammad Samuel Zylgwyn, Tukul Arwana, Naysila Mirdad, Ayu Ting Ting, semuanya punya hal yang serupa. Pendapatan dari dunia entertainment diputar lagi ke bisnis kos-kosan dan kontrakan, asetnya nyebar dari sekitaran kampus sampai wilayah industri.

Kan ini jadi pertanyaan, buat apa sih para artis-artis yang penghasilannya gede masih ngurus bisnis kos-kosan atau kontrakan, apa gak repot? Toh gak seberapa hasilnya dibandingkan dengan nge-job sekali di TV. Ternyata, jawabannya cukup masuk akal

Uang Manggung Naik Turun, Uang Sewa Tetap Jalan

Penghasilan artis memang nggak selalu stabil. Bulan ini bisa dapat banyak job, bulan depan belum tentu. Jadwal manggung, syuting, popularitas, sampai tren hiburan bisa memengaruhi pemasukan.

Karena itu, sebagian artis mulai mengubah penghasilan dari dunia hiburan menjadi aset produktif, salah satunya lewat bisnis kos-kosan. Ria Ricis, Ayu Ting Ting, Tya Ariestya, hingga Tukul Arwana melihat properti sebagai cara menjaga pemasukan tetap berjalan.

Sederhananya, saat job lagi sepi, kamar kos yang terisi tetap bisa menghasilkan uang setiap bulan.

Kamar Terisi, Cash Flow Tetap Jalan

Daya tarik utama bisnis kos ada di pemasukan rutinnya. Selama kamar terisi, uang sewa terus masuk tanpa pemilik harus bekerja setiap hari.

Tya Ariestya melihat kos sebagai kombinasi pemasukan rutin sekaligus aset yang berpotensi naik nilainya. Tukul Arwana juga menjadikan properti sebagai sumber penghasilan yang lebih stabil dibanding pekerjaan hiburan yang sifatnya musiman.

Jadi, uang sewa ibarat keran pemasukan yang terus mengalir selama tingkat hunian tetap bagus.

Karier Bisa Berubah, Aset Tetap Bisa Bekerja

Popularitas dan pekerjaan di dunia hiburan nggak selamanya berada di atas. Hal ini disadari sejumlah artis yang mulai membangun bisnis properti sejak masih aktif bekerja.

Samuel Zylgwyn, misalnya, mulai merintis bisnis kos sekitar 2014–2015 karena sadar karier hiburan punya batas. Properti dipersiapkan sebagai bekal jangka panjang, termasuk untuk keluarga.

Artinya, kos bukan sekadar bisnis bulanan, tetapi strategi menyiapkan sumber pemasukan ketika pekerjaan utama nggak lagi seramai sekarang.

Lokasi Lebih Penting daripada Sekadar Bangunan

Bisnis kos punya pasar yang cukup jelas: orang yang membutuhkan tempat tinggal dekat kampus, kantor, atau kawasan industri.

Tya Ariestya memilih area dekat perkantoran dan industri. Samuel Zylgwyn dan Naysila Mirdad menyasar kawasan kampus. Sementara Arief Muhammad mengembangkan Ternak Kostan di sekitar kampus.

Kuncinya jelas: lokasi menentukan. Kamar bagus di lokasi yang salah bisa tetap kosong, sementara kamar sederhana di lokasi strategis justru lebih gampang laku.

Nggak Harus Langsung Punya Banyak Kamar

Bisnis kos juga nggak harus dimulai dengan ratusan pintu. Naysila Mirdad, misalnya, mengawali bisnisnya dengan sekitar 23 kamar sebelum berkembang menjadi sekitar 50–52 kamar. Tukul Arwana bahkan sudah memiliki sekitar 200 pintu kos dan kontrakan.

Jadi, mulai kecil juga nggak masalah. Yang penting, pahami dulu arus kas, okupansi, biaya perawatan, dan karakter pasar sebelum melakukan ekspansi.

Satu Aset, Dua Potensi Keuntungan

Selain mendapatkan uang sewa, pemilik kos juga punya aset berupa tanah dan bangunan yang berpotensi mengalami kenaikan nilai dalam jangka panjang.

Namun, tetap harus realistis. Harga tanah, biaya pembangunan, tingkat hunian, perawatan, dan persaingan wajib dihitung sebelum investasi.

Pengelolaan pun bisa diserahkan kepada orang lain. Ayu Ting Ting, misalnya, mempercayakan pengelolaan kos kepada orang tuanya agar bisnis tetap berjalan meski jadwalnya padat.

Penghasilan Besar Belum Tentu Aman

Pelajaran paling penting dari bisnis kos para artis adalah: penghasilan besar bukan berarti otomatis aman secara finansial. Yang lebih penting adalah bagaimana sebagian penghasilan diubah menjadi aset yang bisa terus bekerja.

Kos memang bukan investasi tanpa risiko. Tapi kalau lokasi, modal, pengelolaan, dan pasar dihitung dengan matang, properti bisa menjadi sumber cash flow sekaligus aset jangka panjang.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan cuma berapa besar penghasilan kita, tetapi berapa banyak yang berhasil diubah menjadi aset yang tetap menghasilkan saat kita sedang nggak bekerja.

Disadur dari inilah.com


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× #WAAjaDulu