MRT Jakarta ternyata nggak cuma mengandalkan uang dari tiket penumpang. Bisnis properti dan pengembangan kawasan kini ikut menjadi sumber pemasukan yang cukup signifikan.
PT MRT Jakarta (Perseroda) mencatat bisnis properti menyumbang sekitar 25 persen dari total pendapatan non-farebox, alias pendapatan di luar penjualan tiket. Angka ini menunjukkan bahwa stasiun dan kawasan di sekitarnya bukan cuma tempat naik-turun penumpang, tapi juga bisa menjadi mesin ekonomi.
Pendapatan di Luar Tiket Makin Penting
Division Head Property Management Division MRT Jakarta M Iqbal Bimo Arifianto mengatakan, pendapatan perusahaan berasal dari beberapa sumber, mulai dari tiket, subsidi pemerintah, hingga non-farebox.
Pada 2025, total pendapatan MRT Jakarta mencapai sekitar Rp1,5 triliun. Sekitar 30 persen di antaranya berasal dari non-farebox. Porsinya meningkat dibandingkan 2024 yang mencapai sekitar Rp1,4 triliun.
Jika kontribusi bisnis properti mencapai 25 persen dari pendapatan non-farebox tersebut, nilainya sekitar Rp112,5 miliar.
Potensi ini masih akan terus dikembangkan seiring ekspansi kawasan berbasis transit atau transit oriented development (TOD).
Belajar dari Hong Kong dan Shenzhen
MRT Jakarta menyebut pengembangan TOD di Indonesia masih berada pada tahap awal, atau TOD 1.0. Sementara itu, beberapa kota lain sudah jauh lebih maju.
Hong Kong, misalnya, disebut telah mencapai TOD 4.0 dengan kontribusi bisnis properti lebih dari 50 persen terhadap pendapatan sistem transportasinya.
Ada juga Shenzhen yang menerapkan konsep land value capture (LVC). Lewat konsep ini, kenaikan nilai ekonomi lahan di sekitar jalur transportasi bisa ikut memberikan pemasukan bagi sistem transportasi publik.
Artinya, stasiun MRT nggak cuma dipandang sebagai fasilitas transportasi, tetapi juga sebagai pemicu pertumbuhan kawasan.
Blok M Jadi Tantangan Besar
Salah satu proyek properti MRT Jakarta yang cukup menantang adalah kawasan Blok M. Kawasan ini punya karakter yang berbeda dari gedung komersial biasa karena menjadi ruang publik yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat.
Sebelum ditata, Blok M menghadapi sejumlah persoalan, mulai dari parkir semrawut, kawasan yang kurang terawat, bangunan yang perlu dibenahi, hingga masalah sosial seperti premanisme dan pencopetan.
MRT Jakarta memilih pendekatan kolaboratif. Pihak yang sudah lama beraktivitas di kawasan tersebut tidak serta-merta disingkirkan. Sebaliknya, mereka diajak berkomunikasi dan diberdayakan agar bisa ikut berkembang.
Blok M Mau Jadi Youth Hub
Revitalisasi Blok M sendiri masih belum selesai. MRT Jakarta menyebut pengembangannya baru berjalan sekitar separuh dari keseluruhan rencana.
Konsep yang dibawa bukan cuma mempercantik kawasan, tetapi menjadikannya sebagai city regenerator. Jadi, kawasan di sekitar stasiun diharapkan kembali menjadi pusat aktivitas masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
Hampir 500 UMKM saat ini disebut sudah menjadi tenant MRT Jakarta. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dari upaya menghidupkan kawasan.
MRT Jakarta juga menggunakan konsep placemaking, yaitu menciptakan tempat yang punya identitas dan “jiwa”. Untuk Blok M, identitas yang dibangun adalah Youth Hub, tetapi tetap memasukkan unsur nostalgia agar kawasan tersebut bisa dinikmati lintas generasi.
Properti dan Transportasi Makin Nyambung
Pengembangan seperti Blok M menunjukkan bagaimana bisnis properti dan transportasi publik mulai saling berkaitan.
Stasiun bukan lagi sekadar titik keberangkatan dan kedatangan. Kawasan di sekitarnya bisa dikembangkan menjadi ruang usaha, tempat berkumpul, pusat UMKM, sekaligus penggerak ekonomi.
Buat MRT Jakarta, model seperti ini membuka sumber pendapatan baru di luar tiket. Sementara bagi kawasan kota, pengembangan TOD bisa mengubah area sekitar stasiun menjadi lebih aktif dan punya nilai ekonomi.
Ke depan, tantangannya adalah bagaimana pengembangan properti tetap berjalan seiring dengan fungsi utama MRT sebagai transportasi publik, sekaligus menjaga karakter kawasan dan memberi ruang bagi pelaku usaha yang sudah lebih dulu hidup di sana.
Disadur dari kompas.com
0 Comments