Peraturan Properti

Adanya surat wasiat bisa ngebantu banget pas urusin pembagian harta warisan. Kadang, pembagian harta warisan lewat surat wasiat jadi pilihan biar nggak ribet sama perseteruan keluarga.

Tapi sebenernya, kalau soal pembagian harta warisan, ada cara lain juga yang bisa dilakuin. Misalnya, sebelum orang tua kita pergi, mereka kasih sebagian aset ke anak-anaknya.

Selain itu, kalau nggak ada hibah atau surat wasiat, keluarga pewaris yang ditinggalin juga tetep bisa dapet bagian dari warisan sesuai hukum yang berlaku. Di Indonesia, ada berbagai sistem hukum waris yang bisa diterapin, kayak hukum adat, hukum Islam, hukum perdata barat, atau hukum waris China.

Terus, sebenernya gimana sih pentingnya nulis surat wasiat sebelum pewaris meninggal?

Menurut Andi Saputra, advokat hukum, menulis surat wasiat itu cukup penting buat mencegah konflik dan perdebatan soal harta warisan.

“Itu kan soal pembuktian. Agar tidak jadi sengketa, sebaiknya ditulis dalam surat (wasiat) dan dicatatakan ke Notaris,” ungkapnya kepada detikcom, Rabu (6/9/2023).

Di sisi lain, Vica Natalia, Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) bilang, penting atau enggaknya nulis surat wasiat juga tergantung dari situasi seseorang.

“Karena biasanya kalau orang-orang yang aware sama harta-hartanya (agar) nanti tidak terjadi perselisihan dan perebutan harta-harta tersebut biasanya dibikinkan surat wasiat. Supaya anak-anaknya atau ahli warisya itu mendapatkan sesuai porsi sesuai dengan pewaris yang meninggal dunia,” ungkap Vica kepada detikcom, Rabu (6/9/2023).

Iya, tujuannya biar para penerima warisan dapat dapetin harta sesuai dengan keinginan si empunya warisan atau yang nulis wasiat. Nah, ini yang bikin beda pembagian lewat surat wasiat sama hukum waris biasa.

Kalau lewat wasiat, si penulis punya kebebasan pilih siapa yang dapet apa, asal sesuai hukum yang berlaku (kalau Islam, ngikutin Kompilasi Hukum Islam, paling banyak sepertiga dari harta warisan). Kalau pembagian waris pake hukum yang berlaku, semua ahli waris dapet bagian sesuai aturan.

Contohnya, si A meninggal dan ninggalin satu rumah senilai Rp 100 juta dan tanah senilai Rp 500 juta. Jadi total harta warisannya A itu Rp 600 juta. Yang berhak dapet itu B, C, dan D, tapi si A ninggalin wasiat biar rumahnya jatuh ke B.

Nah, otomatis, berdasarkan wasiat itu, rumahnya jadi milik B. Tapi kalau harganya rumahnya itu Rp 500 juta, wasiatnya jadi batal karena lebih dari 1/3 dari harta warisan.

Kalau nggak ada surat wasiat, dengan contoh kasus yang sama, kalau agama Islam, para ahli waris, dalam hal ini rumah, berhak dapetin paling banyak sepertiga dari nilainya. Tapi kalau pake KUHPer (KUH Perdata), hasil warisan dibagi rata ke semua ahli waris.

Disadur dari detik.com

Leave A Reply