Investasi Properti

Pada kuartal III/2023 ini, aktivitas investasi properti komersial di Asia Pasifik anjlok sebesar 22 persen secara tahunan (YoY) menjadi 21,3 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 327,8 triliun. Penurunan nilai itu seiring berlanjutnya kontraksi tajam pada volume investasi di sektor perkantoran dan ritel, menurut data dan analisis oleh konsultan real estat global JLL.

Namun, lain halnya dengan sektor industri dan logistik serta hunian dan multifamily yang tetap tangguh. Sepanjang kuartal III/2023 ini, China muncul sebagai pasar paling aktif se-Asia Pasifik.

Volume investasinya seakan melawan tren penurunan dengan torehan 4,7 miliar dollar AS atau setara Rp 72,2 triliun, tumbuh 43 persen YoY di tengah partisipasi investor asing yang terbatas. Sektor industri dan logistik serta aset yang dilengkapi dengan riset dan pengembangan adalah penerima utama modal bagi para investor domestik dan korporasi.

Sedangkan di Hong Kong, aktivitas investasi raih catatan 800 juta dollar AS atau setara Rp 12,3 triliun, tumbuh 15 persen YoY dengan mayoritas transaksi terdiri dari penempatan sekaligus dalam jumlah kecil yang melibatkan aset dengan strata-title untuk pemakaian pribadi.

Kemudian, Jepang membukukan transaksi sebesar 4,1 miliar dollar AS atau setara Rp 63,07 triliun, dengan pertumbuhan 3 persen YoY. Dalam pasar ini sektor industri dan logistik menjadi sektor yang aktif dengan dua akuisisi portofolio yang mencolok oleh investor domestik, dan J-REIT yang mengakuisisi portofolio hotel seiring dengan pemulihan pariwisata yang cepat dan kenaikan harga kamar hotel.

Korea Selatan berhasil menorehkan volume investasi senilai 4,2 miliar dollar AS atau setara Rp 64,5 triliun, anjlok sebesar 35 persen YoY. Penyebabnya investor domestik memakai sebagian besar dana investasi mereka, bersama dengan volume kantor yang mengecil akibat sentimen yang surut di kalangan investor inti global.

Sedangkan di Australia, volume investasi anjlok sebesar 47 persen YoY menjadi 3,8 miliar dollar AS atau setara Rp 58,4 triliun. Pasar investasi tetap lambat lantaran proses penentuan harga terus berlanjut seiring dengan perubahan biaya pendanaan yang cepat.

Terdapat pergeseran alokasi ke aset industri dan logistik serta hunian mahasiswa dengan optimisme yang tumbuh di sektor-sektor ini.

Terakhir, Singapura membukukan penurunan sebesar 11 persen menjadi 2 miliar dollar AS atau setara Rp 30,7 triliun, dengan akuisisi yang signifikan di sektor hotel dan ritel

Disadur dari kompas.com



Leave A Reply