Investasi buat pembangunan data center AI lagi naik-naiknya. Menurut laporan terbaru International Energy Agency (IEA), total investasi global bisa tembus US$580 miliar atau sekitar Rp9,69 kuadriliun sampai akhir 2025. Angka ini bukan cuma besar, tapi juga nunjukkin betapa masifnya lonjakan kebutuhan infrastruktur buat menyokong teknologi AI yang makin maju setiap hari.
Yang bikin makin heboh, nilai investasi itu jauh ngalahin belanja eksplorasi minyak dunia yang cuma sekitar US$40 miliar. Artinya, uang yang digelontorkan industri sekarang lebih banyak lari ke infrastruktur digital dibanding energi fosil tradisional.
Di sisi lain, raksasa teknologi juga lagi gencar-gencarnya bikin data center dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. OpenAI merencanakan investasi US$1,4 triliun buat ngebangun infrastruktur baru. Meta siapin US$600 miliar, sementara Anthropic ngegas dengan rencana US$50 miliar. Dari angka-angka ini, langsung keliatan gimana seriusnya perusahaan teknologi berlomba investasi agar nggak ketinggalan dalam persaingan AI.
Tapi lonjakan ini datang bareng tantangan besar: energi. Permintaan listrik buat data center AI melesat cepat banget, sementara pertumbuhan energi terbarukan masih kedodoran. Big tech seperti Google, Microsoft, dan Meta memang klaim sudah setara-kan konsumsi listrik mereka lewat pembelian energi hijau. Tapi realitanya, data center mereka baru bisa pakai listrik bersih secara real-time sekitar 30–70 persen, tergantung lokasi dan musim. Sisanya tetap pakai listrik dari jaringan yang campur aduk antara energi fosil dan terbarukan.
Masalah ini makin kerasa di pusat data non-hyperscale, termasuk co-location dan operator baru yang belum punya strategi energi jangka panjang. Dengan bauran energi global yang masih berat di sumber fosil, kemungkinan besar porsi energi bersih yang bener-bener dipakai data center AI lebih kecil dari klaim resmi perusahaan teknologi.
Sementara permintaan energi bersih terus naik, banyak proyek energi terbarukan mandek gara-gara antrean interkoneksi panjang dan jaringan transmisi yang terbatas. Akhirnya, banyak operator data center pilih lokasi dengan listrik fosil yang melimpah, kecuali mereka berani investasi energi bersih sejak awal.
IEA memprediksi bahwa data center hyperscale di pasar maju mungkin bisa mencapai kecocokan energi tahunan hampir 100 persen di tahun 2030. Tapi secara global, angka itu diperkirakan cuma 50–70 persen. Tanpa percepatan pembangunan transmisi dan penyimpanan energi, penggunaan energi bersih real-time bisa jauh lebih rendah.
Disadur dari idnfinancials.com
0 Comments