Pagi yang tadinya biasa saja bisa berubah setelah abu vulkanik Anak Krakatau menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Lampung. Warga pun diminta tetap waspada dan, bila memungkinkan, berada di dalam rumah.
Meski sekilas mirip debu biasa, abu vulkanik bukan sesuatu yang bisa dibersihkan asal-asalan. Partikelnya sangat halus dan dapat mengganggu pernapasan, mata, serta kulit. Teksturnya juga cukup tajam sehingga berpotensi menggores permukaan benda jika dibersihkan dengan cara yang keliru.
Jangan Tunggu Abu Menumpuk
Abu vulkanik bisa dengan mudah masuk ke rumah dan menempel di berbagai sudut, mulai dari lantai dan furnitur sampai perangkat elektronik seperti televisi, komputer, dan kamera.
Membersihkannya memang penting, tetapi jangan sampai proses bersih-bersih malah membuat abu beterbangan ke udara dan terhirup.
Sebelum mulai, pakai masker dan pelindung mata. Abu juga sebaiknya dibasahi sedikit agar tidak mudah beterbangan. Namun, jangan kebanyakan air karena abu bisa menggumpal dan berubah menjadi seperti lumpur.
Kalau endapan abu sudah tebal, terutama lebih dari sekitar satu sentimeter, gunakan sekop untuk mengangkatnya. Sementara untuk lapisan yang lebih tipis, sapu berbulu kaku bisa digunakan. Abu yang sudah terkumpul sebaiknya langsung dimasukkan ke kantong plastik untuk dibuang.
Hati-hati juga saat membersihkan area luar rumah. Abu vulkanik yang terkena air bisa menjadi licin dan membuat permukaan halaman atau lantai lebih mudah bikin terpeleset.
Masuk Rumah, Jangan Malah Bikin Abu Terbang
Begitu masuk ke dalam rumah, cara membersihkannya perlu sedikit berbeda. Masalahnya, abu yang beterbangan justru bisa membuat udara di dalam ruangan makin tidak nyaman.
Karena itu, pilih metode yang minim debu. Untuk lantai, misalnya, gunakan kain pel lembap atau kain basah daripada menyapu dalam kondisi kering. Menyapu kering berisiko membuat partikel abu kembali beterbangan ke seluruh ruangan.
Kalau endapannya cukup tebal, basahi terlebih dahulu. Setelah itu, kumpulkan secara perlahan dan masukkan ke kantong.
Untuk karpet dan furnitur berlapis kain, penyedot debu bisa menjadi pilihan. Setelah abu terangkat, permukaan dapat dibersihkan menggunakan sampo atau detergen. Hindari menggosok terlalu keras karena partikel abu yang tajam bisa merusak serat kain.
Permukaan kaca, porselen, enamel, dan akrilik juga jangan diperlakukan seperti permukaan biasa. Gunakan kain atau spons yang sudah diberi detergen, kemudian tepuk perlahan. Hindari mengusapnya dengan tekanan kuat.
Sementara itu, perabot kayu bisa dibersihkan menggunakan penyedot debu terlebih dahulu, lalu dilanjutkan dengan kain basah yang ditepuk perlahan.
Elektronik Juga Bisa Kena Imbas
Membersihkan lantai dan furnitur belum berarti pekerjaan selesai. Abu vulkanik yang masuk ke rumah juga bisa menyelinap ke bagian dalam televisi, komputer, kamera, dan perangkat elektronik lainnya.
Jangan buru-buru mengelap perangkat. Pastikan semuanya sudah dimatikan dan kabelnya dicabut dari sumber listrik. Setelah aman, abu bisa dibersihkan secara perlahan menggunakan penyedot debu atau udara bertekanan.
Cara ini penting supaya partikel abu bisa diangkat tanpa malah beterbangan dan menyebar ke ruangan lain.
Pakaian Jangan Langsung Masuk Mesin Cuci
Bukan cuma furnitur dan elektronik yang perlu diperhatikan. Pakaian, kain, atau tekstil lain yang terkena abu juga sebaiknya tidak langsung dimasukkan ke mesin cuci.
Bilas terlebih dahulu menggunakan air mengalir untuk menghilangkan partikel abu. Setelah itu, pakaian bisa dicuci seperti biasa.
Kalau abu yang menempel cukup banyak, bawa kain atau pakaian ke luar rumah dan tepuk-tepuk perlahan untuk melepaskan abu sebelum dicuci. Cara sederhana ini bisa membantu mengurangi jumlah partikel yang masuk ke mesin cuci sekaligus meminimalkan risiko kerusakan pada serat kain.
Abu Anak Krakatau Menyebar ke Mana?
Berdasarkan catatan BMKG, sebaran abu vulkanik Anak Krakatau terbagi dalam dua klaster. Sebaran pertama bergerak menuju Jakarta, Banten, dan Jawa Barat dengan ketinggian hingga sekitar 20.000 kaki.
Sementara klaster lainnya bergerak dari wilayah Banten menuju Lampung dengan ketinggian mencapai sekitar 50.000 kaki.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Karena itu, proses membersihkannya perlu dilakukan dengan hati-hati agar tidak membahayakan penghuni rumah maupun merusak barang.
Gunakan masker dan pelindung mata, pastikan ventilasi cukup, dan sebisa mungkin pilih metode pembersihan basah. Intinya, jangan sampai rumah memang terlihat bersih, tetapi abu malah kembali beterbangan dan masuk ke saluran pernapasan.
Disadur dari detik.com
0 Comments