Lahan sekitar 2.500 meter persegi di Jalan Ir. H. Djuanda, Jakarta Pusat, milik PT KA Properti Manajemen kini berubah jadi Railley Padel Jakarta Juanda, resmi buka 6 Oktober 2026. Dibangun dari 18 Januari sampai 30 Agustus 2026 dengan investasi sekitar Rp6 miliar, isinya empat lapangan, ruang VIP, musala, loker, sewa raket, dan parkir. Lokasinya dipilih karena dikelilingi perkantoran, jadi pekerja gampang main selepas jam kerja. Intinya, lahan yang belum dikembangkan bisa tetap menghasilkan duit.

Pasar Gede, Lahan Hemat

Padel di Indonesia bukan sekadar tren numpang lewat. Pemainnya didominasi kelas menengah atas, profesional muda, dan komunitas urban usia 20 sampai 45 tahun. Satu lapangan padel cuma 10 x 20 meter, sementara tenis butuh sekitar 18,3 x 36,6 meter. Di lahan yang sama, pengelola bisa pasang dua sampai tiga lapangan padel. Tapi buat jadi klub beneran yang punya ruang tunggu, ruang ganti, toko perlengkapan, dan kafe, arsitek Denny Setiawan bilang butuh lahan minimal sekitar 1.000 meter persegi.

Dari Mana Duitnya Ngalir

Tarif sewa berkisar Rp350.000 sampai Rp600.000 per jam, dan paling ramai pas jam pulang kantor serta akhir pekan. Hitungan simpelnya: tarif Rp400.000, enam jam sehari, 30 hari, satu lapangan menghasilkan Rp72 juta per bulan. Dikurangi biaya Rp40 juta, laba bersihnya sekitar Rp32 juta.

Pemasukan juga datang dari kafe dan F&B, merchandise, sewa raket buat pemula, kelas akademi, pelatih privat, open play, sampai turnamen. Klub yang sehat nggak bergantung ke satu sumber, tapi bikin ekosistem yang muter terus.

Modal dan Balik Modal

Satu lapangan standar lengkap dengan dinding kaca dan pagar jaring butuh Rp400 juta sampai Rp500 juta. Kalau bangunan sudah ada, bisa turun jadi Rp200 juta sampai Rp300 juta. Angka Rp600 juta sampai Rp1,2 miliar per lapangan lebih pas dibaca sebagai total plus fasilitas pendukung. Kompleks empat sampai lima lapangan dengan loker dan kafe ada di kisaran Rp4 miliar sampai Rp9 miliar.

Soal balik modal, janji satu sampai dua tahun sering terdengar, tapi hitungan lain lebih hati-hati. Studi di Depok dengan tarif Rp350.000 dan okupansi 75 persen menghasilkan titik impas sekitar 2,66 tahun, dan persaingan harga bisa bikin makin lama.

Urusan Izin

Usaha padel butuh NIB lewat OSS, kesesuaian tata ruang, dokumen lingkungan, Persetujuan Bangunan Gedung, dan Sertifikat Laik Fungsi. Di Jakarta aturannya makin ketat: izin baru nggak lagi diberikan di zona perumahan, cuma di zona komersial. Lapangan di kawasan perumahan dibatasi sampai pukul 20.00 dan wajib kedap suara. Sewa lapangan juga kena pajak daerah PBJT.

Jaga Pemain Biar Balik Lagi

Tren olahraga bisa ganti secepat musim. Makanya komunitas, turnamen rutin, dan membership jadi perekat. Daftarkan juga nama dan logo ke DJKI supaya aman kalau pesaing bermunculan.

Investasi Transisi buat Lahan Menunggu

Vivin Harsanto dari JLL Indonesia menyebut padel sebagai optimalisasi aset. Lahan yang awalnya disiapkan buat menara tapi nunggu pasar, diisi padel dulu. Di Jabodetabek, padel bahkan disebut investasi transisi. Buat pemilik lahan kosong, ini jalan keluar dari lahan yang diam. Buat investor, ada arus kas berulang dari sewa per jam, membership, dan F&B.

Peluang terbesar ada di lahan berzonasi komersial dengan akses gampang dan dekat kantor atau kampus. Tapi persaingan harga, pasar yang jenuh, dan regulasi tetap risiko yang harus dihitung dari awal.

Disadur dari Kompas.com, detik.com & beberapa sumber lainnya


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *