Punya rumah sendiri jadi salah satu target besar, terutama buat keluarga muda. KPR pun sering jadi jalan pintas karena nggak perlu nunggu tabungan terkumpul sampai penuh.
Tapi sebelum bank bilang “oke”, ada satu hal yang harus dibuktikan calon debitur: sanggup nggak membayar cicilan sampai lunas?
Buat bank, nominal gaji memang penting. Tapi bukan cuma itu. Jenis pekerjaan, kestabilan pemasukan, kelengkapan dokumen, sampai riwayat kredit juga ikut diperhitungkan.
Arianto Muditomo mengatakan profesi bukan satu-satunya penentu KPR disetujui. Kemampuan membayar tetap menjadi pertimbangan utama, yang biasanya terlihat dari bukti penghasilan.
Masalahnya, nggak semua pekerja punya slip gaji. Nah, di sinilah beberapa jenis pekerjaan bisa menghadapi tantangan lebih besar.
1. Pekerja Informal
Pedagang kecil, tukang cukur, sampai pengemudi ojek daring mungkin punya pemasukan rutin. Namun, mereka biasanya nggak memiliki kontrak kerja atau slip gaji seperti karyawan kantoran.
Kondisi ini bikin bank harus mencari cara lain untuk memastikan calon debitur memang punya kemampuan mencicil.
Kabar baiknya, pekerja informal tetap punya peluang mendapatkan KPR. Bank bisa melihat aliran pemasukan melalui rekening koran atau riwayat transaksi sebagai bukti kemampuan finansial.
Jadi, meski nggak punya slip gaji, bukan berarti pintu KPR otomatis tertutup.
2. Pekerjaan dengan Risiko Tinggi
Ada juga pekerja yang penghasilannya sebenarnya tetap dan terdokumentasi, tetapi profesinya punya risiko tinggi.
Penambang, petugas pemadam kebakaran, hingga pelaut termasuk kelompok yang bisa mendapat perhatian lebih dari bank. Risiko kecelakaan atau kematian membuat bank perlu mempertimbangkan keberlanjutan pembayaran cicilan jika sesuatu terjadi pada debitur.
Namun bukan berarti mereka otomatis ditolak.
Asuransi pelunasan kredit bisa menjadi salah satu solusi. Jika debitur meninggal dunia, kewajiban kredit dapat ditangani sesuai ketentuan polis.
Pilihan lainnya adalah mengambil tenor lebih pendek. Tapi konsekuensinya jelas: cicilan per bulan bakal lebih besar.
3. Freelancer
Kerja freelance sekarang makin populer. Fleksibel, bisa mengatur waktu sendiri, dan nggak harus duduk di kantor dari pagi sampai sore.
Tapi buat bank, ada satu masalah: pemasukan freelancer bisa naik turun.
Bulan ini order ramai, bulan depan bisa saja sepi. Fluktuasi seperti ini membuat bank perlu melihat kondisi keuangan lebih dalam sebelum memberikan KPR.
Meski begitu, freelancer tetap punya kesempatan. Kuncinya adalah menunjukkan bukti pemasukan yang jelas dan konsisten. Riwayat transaksi rekening bisa membantu bank melihat rata-rata penghasilan sekaligus kemampuan calon debitur membayar cicilan.
4. Wiraswasta
Pengusaha juga menghadapi tantangan serupa. Bedanya, sumber penghasilan mereka berasal dari bisnis yang kondisinya bisa berubah-ubah.
Omzet yang turun, arus kas bermasalah, atau bisnis yang mengalami kerugian bisa membuat bank ragu memberikan pinjaman jangka panjang.
Karena itu, kesehatan bisnis menjadi modal penting. Pengusaha sebaiknya memiliki pencatatan keuangan yang rapi, bukti transaksi yang jelas, serta dokumen legalitas usaha yang lengkap.
Semakin mudah bank membaca kondisi bisnis, semakin mudah pula mereka menilai kemampuan calon debitur membayar KPR.
Bukan Pekerjaannya, tapi Buktinya
Jadi, jangan buru-buru berpikir profesi tertentu pasti bikin pengajuan KPR ditolak.
Pada dasarnya, nggak ada pekerjaan yang otomatis membuat seseorang gagal mendapatkan KPR. Yang paling penting adalah kemampuan membayar, kestabilan pemasukan, kelengkapan dokumen, dan riwayat kredit.
Pekerja informal, freelancer, wiraswasta, maupun pekerja dengan profesi berisiko tetap punya peluang memiliki rumah. Bedanya, mereka mungkin perlu memberikan bukti finansial yang lebih lengkap agar bank yakin cicilan nantinya bisa dibayar sampai selesai.
Ujung-ujungnya, bank bukan cuma bertanya, “Kerja sebagai apa?” tetapi lebih jauh: “Seberapa kuat bukti bahwa kamu mampu bayar cicilan?”
Disadur dari detik.com
0 Comments