Beli tanah atau rumah itu puncak dari nabung dan ngerencanain bertahun-tahun. Tapi di balik euforia teken perjanjian, ada satu babak yang sering kelewat: kewajiban pajak. Pembeli dan penjual sama-sama punya tanggung jawab fiskal yang wajib kelar sebelum peralihan hak resmi selesai. Kalau gak paham ini, transaksi bisa mendadak macet pas udah mepet-mepet.

Yang sering bikin bingung, dua pajak yang nyertain jual beli tanah, BPHTB dan PPh, ternyata gak disetor ke Kantor Pertanahan, meski urusan peralihan hak emang diproses di sana. Dua-duanya justru ngalir ke instansi yang beda sama sekali.

Dua Pajak, Dua Pihak, Dua Arah Beda

Dirjen Penetapan Hak dan Pendaftaran Tanah Kementerian ATR/BPN, Asnaedi, ngejelasin pembagian kewajiban ini dengan gamblang, kayak mau mastiin gak ada lagi yang bingung soal ini. Pembeli properti wajib lunasin BPHTB. Sementara penjual yang nanggung PPh. Dua-duanya harus dipahami sebelum pengecekan PPAT dan pembuatan Akta.

Ini bukan formalitas administratif yang bisa ditunda-tunda, tapi syarat mutlak. Tanpa bukti pelunasan pajak di tangan, proses hukum peralihan kepemilikan bakal otomatis nyangkut, sematang apapun persiapan lain yang udah disiapin.

BPHTB: Wajib Pembeli, Larinya ke Kas Daerah

BPHTB itu pajak atas perolehan hak milik tanah/bangunan, dan kewenangannya ada di tangan pemerintah daerah, bukan Kantor Pertanahan. Dasar hukumnya UU Nomor 1 Tahun 2022, di mana Pasal 44 nentuin objeknya dan Pasal 45 nentuin pembeli sebagai wajib pajak, dibayar lewat kanal resmi daerah setempat.

PPh: Wajib Penjual, Larinya ke Kas Negara

Arahnya beda sama BPHTB. Kalau BPHTB itu beban pembeli, PPh atas pengalihan hak tanah dan/atau bangunan justru tanggung jawab penjual, konsekuensi logis dari duit yang dia terima.

Penjual, sebagai pihak yang dapet penghasilan dari transaksi, wajib lapor ke negara. Kalau BPHTB muaranya ke kas daerah, PPh ngalir ke kas negara lewat kanal resmi Direktorat Jenderal Pajak, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2016 beserta perubahannya.

Siapin Matang dari Awal, Biar Prosesnya Mulus

Paham dua jenis pajak ini bukan cuma soal patuh hukum, tapi juga perencanaan finansial yang realistis. Pembeli perlu itung BPHTB sebagai bagian biaya perolehan, sementara penjual siapin PPh dari awal biar gak jadi kejutan dadakan. Kalau dua-duanya udah paham kewajiban masing-masing dan siapin dokumen plus dana lengkap, proses peralihan hak di hadapan PPAT bisa jalan mulus, tanpa molor atau bingung-bingung lagi.

Ujung-ujungnya, transaksi tanah yang sehat itu bukan cuma soal harga, tapi juga kesiapan ngadepin semua kewajiban administratif dan fiskalnya, biar peralihan hak kelar sesuai target, bahkan bisa lebih cepet.

Disadur dari realestat.id


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× #WAAjaDulu