Kabar baik buat pemain perhotelan. Menurut BPS, okupansi hotel berbintang naik dari 42,78 persen di Maret ke 48,83 persen di April, terus tembus 54,28 persen di Juni 2026, didorong libur sekolah dan kepulangan jemaah haji. Tapi grafiknya nggak lurus-lurus aja. September 2025 sempat anjlok 4,52 poin persentase ke 50,16 persen gara-gara daya beli yang melemah. Pemulihan baru kerasa di 2026, dan sangat tergantung lokasi.
Peta Permintaan Kamar
Bali masih juara dengan okupansi 64,87 persen di Juni, jadi Denpasar dan Badung paling sering disebut investor. Yogyakarta nyusul di 60,36 persen berkat wisata dan acara pertemuan. Gorontalo ikut masuk tiga besar dengan 60,68 persen. Jakarta menarik dari sisi perjalanan bisnis, 54,80 persen di April. Kalimantan Barat, dengan Pontianak sebagai pusatnya, tembus 56,26 persen di Mei.
BPS nyebut rapat, konferensi, dan pameran sebagai pendorong utama. Permintaannya datang dari dua arah: wisatawan ngisi akhir pekan dan musim libur, sementara dinas dan acara korporasi bikin hari kerja tetap hidup.
Kenapa Hotel Tua Menggoda
Bangun dari nol butuh modal gede dan waktu lama. Rupiah lemah dan bunga tinggi bikin banyak pengembang nunda proyek. Di sisi lain, Colliers Indonesia nyatat minat akuisisi hotel, proyek brownfield, dan reposisi aset, termasuk rebranding, makin naik.
Hotel yang udah berdiri punya bangunan, lokasi, dan bisnis jalan. Banyak yang cuma ketinggalan di kondisi kamar, fasilitas, dan manajemen. Okupansi rendah, tarif tertekan, dan pemilik yang capek atau kehabisan dana bikin investor baru bisa masuk dengan harga lebih masuk akal.
Keuntungan paling nyata ada di perizinan. Hotel yang udah beroperasi biasanya udah punya NIB dan izin pendukung, jadi jeda sebelum terima tamu bisa jauh lebih singkat. Tapi izin lama bukan tiket otomatis. Perubahan kepemilikan wajib diperbarui di OSS, dan renovasi besar bisa nyentuh syarat kayak Sertifikat Laik Fungsi. Cek dokumen sebelum transaksi nggak boleh dilewatin.
Dari Uji Tuntas sampai Pintu Dibuka
Mulai dari uji tuntas: legalitas tanah dan bangunan, kondisi fisik, pajak, utang, kontrak karyawan, sampai riwayat keuangan. Baru setelah itu nego harga dan perjanjian jual beli.
Renovasi nyesuain strategi pasar. Ada hotel yang cukup disegarin di kamar, lobi, dan sistem pemesanan. Ada yang butuh ganti konsep dan merek. Colliers nyatat minimal lima hotel di Jakarta rebranding setahun terakhir, tujuannya geser dari volume ke profitabilitas sekaligus ngerek nilai aset.
Kerjaan segede ini butuh tangan yang biasa ngurus hotel. Konsultan hospitality paham studi pasar, standar kamar, alur layanan, sampai milih operator. Mora Group lihat pemilik hotel makin sering nyari mitra manajemen buat rebranding, sementara arsitek dan kontraktor berpengalaman bantu nekan risiko biaya bengkak.
Begitu renovasi kelar, kerja sesungguhnya baru mulai. Pengelolaan tarif, kanal jual online, kerja sama korporasi, dan kualitas layanan nentuin hotelnya beneran bangkit atau nggak.
Peluang dan Risikonya
Hotel berbintang masih punya hunian jauh di atas hotel nonbintang, tanda pasar masih menghargai kualitas dan reputasi. Hotel tua yang naik kelas berpeluang nangkep selisih itu.
Risikonya nyata. Biaya renovasi bisa bengkak, dan okupansi nasional masih naik turun ngikutin musim. Makanya lokasi, harga beli, dan tim pengelola jadi penentu hasil akhir. Buat investor yang siap kerja pakai data dan konsultan yang tepat, hotel lama dengan izin lengkap tetap jadi salah satu pintu masuk paling menarik ke bisnis perhotelan.
Disadur dari bisnis.com, cnbcindonesia.com dan beberapa sumber lainnya
0 Comments